Banyak bisnis mengalami kekacauan bukan karena kekurangan ide atau lemahnya tim, melainkan karena satu hal yang sering luput disadari yakni kesalahan pemimpin dalam membaca fase bisnisnya sendiri.
Di permukaan, semuanya terlihat baik-baik saja. Operasional berjalan, karyawan hadir, SOP tersedia. Namun perlahan, masalah bermunculan keputusan tidak konsisten, standar turun, konflik meningkat, dan pemimpin merasa harus turun tangan kembali. Yang sering disalahkan adalah tim. Padahal, akar masalahnya justru ada pada cara memimpin.
Kesalahan Pertama: Mengira SOP Sama dengan Sistem
Kesalahan paling awal dan paling umum adalah menyamakan SOP dengan sistem.
Begitu SOP selesai ditulis, pemimpin merasa fondasi sudah kuat. Padahal SOP hanyalah instruksi dan ia tidak menjamin perilaku.
Sistem baru bekerja ketika SOP dijalankan secara konsisten, diawasi, diukur, dan diperbaiki. Tanpa kontrol, tanpa data, dan tanpa disiplin, SOP hanya menjadi dokumen administratif. Rapi di folder, tetapi longgar di lapangan.
Di titik ini, kekacauan sistem mulai tumbuh diam-diam.
Kesalahan Kedua: Melepas Operasional di Fase yang Salah
Kesalahan berikutnya adalah melompat fase.
Bisnis yang sejatinya masih berada di fase awal sudah diperlakukan seperti bisnis stabil.
Dalam fase stabil, pemimpin memang mulai melepaskan operasional harian. Namun itu terjadi setelah sistem terbukti mampu menjaga kualitas tanpa kehadiran figur. Ketika operasional dilepas terlalu dini, tim belum punya referensi yang cukup, ritme belum terbentuk, dan standar belum mengakar.
Yang terjadi bukan kemandirian, melainkan kebingungan.
Dan kebingungan yang dibiarkan akan berubah menjadi kekacauan.
Kesalahan Ketiga: Menganggap Skala Kecil Tidak Butuh Kepemimpinan yang Hadir
Kesalahan ini paling sering terjadi di bisnis dengan karyawan di bawah sepuluh orang. Skala kecil terasa sederhana, dekat, dan mudah dikendalikan. Akibatnya, pemimpin merasa kehadirannya tidak lagi krusial.
Padahal justru di skala kecil, sistem belum punya daya tahan.
Budaya belum terbentuk, disiplin belum stabil, dan kebiasaan buruk sangat mudah menjadi norma.
Ketika pemimpin menjauh terlalu cepat, yang tumbuh bukan sistem melainkan improvisasi. Dan bisnis yang berjalan di atas improvisasi akan selalu rapuh.
Jadi, Kapan Operasional Bisa Dilepas?
Operasional bukan dilepas ketika pemimpin lelah.
Bukan pula ketika SOP selesai dibuat.
Operasional baru bisa dilepas ketika sistem sudah mampu dalam menjaga standar, memperbaiki kesalahan, dan menghasilkan keputusan yang konsisten meski orangnya berbeda.
Sebelum itu, kehadiran pemimpin bukan tanda ketergantungan.
Ia adalah bagian dari pembangunan sistem itu sendiri.
. . .
Kekacauan sistem jarang terjadi tiba-tiba.
Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang salah waktu.
Dan sering kali, bukan bisnisnya yang belum siap tumbuh melainkan pemimpinnya yang terlalu cepat pergi.
-SCU & MRP-





