Di banyak perusahaan, performa tim sering kali dianggap sebagai masalah teknis. SOP yang kurang jelas, struktur organisasi yang tidak tepat, atau model bisnis yang belum stabil. Namun ketika ditelusuri lebih dalam, persoalannya justru sangat manusiawi yakni komunikasi.
Bukan intensitas rapat yang kurang. Bukan juga kurangnya tools kolaborasi. Justru sebaliknya terlalu banyak rapat, terlalu sedikit obrolan berkualitas. Akibatnya, hal-hal kecil yang seharusnya selesai dalam lima menit, berubah menjadi drama berhari-hari.
Data yang semakin sering muncul dalam berbagai studi manajemen memperkuat pola ini bahwa 70% performa tim ditentukan oleh kualitas hubungan antara atasan dan bawahan bukan hanya target yang jelas, bukan hanya KPI, bukan hanya SOP yang rapi. Relasi yang sehat membuat komunikasi mengalir. Sebaliknya, relasi yang renggang membuat semua terlihat rumit.
Dan hubungan yang sehat tidak terbentuk di ruang rapat yang formal.
Justru seringnya lahir dari ruang-ruang kecil yang tidak resmi.
Masalah yang Tidak Selesai di Ruang Rapat, Selesai di Warung Kopi
Ada kalimat lama di dunia manajemen: “Banyak proyek gagal bukan karena kurang strategi, tapi karena kurang bicara.”
Pemimpin sering lupa bahwa manusia tidak bekerja hanya dengan otak, melainkan dengan perasaan. Rapat membahas tugas, tapi obrolan santai membahas beban. Di rapat, bawahan menjelaskan apa yang dikerjakan. Di warung kopi, mereka menjelaskan apa yang sebenarnya membuat mereka tersendat.
Ruang rapat membuat orang menjaga wibawa.
Warung kopi membuat orang jujur.
Dalam suasana informal, bawahan merasa aman menjelaskan bahwa mereka bingung dengan instruksi, lelah dengan dinamika tim, atau merasa tidak didengarkan. Hal-hal seperti inilah yang justru mempercepat penyelesaian masalah. Tanpa tekanan slide presentasi. Tanpa bahasa formal. Tanpa topeng profesionalitas yang berlebihan.
Kadang sebuah masalah yang memakan waktu dua minggu diskusi di rapat, bisa selesai dalam lima belas menit ketika hubungan sudah cair.
Baca Juga :
Kenapa Paragon Begitu Kuat dalam People Development.
Hubungan Adalah Infrastruktur Kinerja
Perusahaan sering berinvestasi pada mesin, software, dan SOP. Namun lupa bahwa ada satu infrastruktur yang tidak kalah penting berupa hubungan kerja yang berkualitas.
Hubungan yang baik membuat komunikasi menjadi lebih jujur dan lebih cepat. Instruksi jadi lebih jelas, delegasi lebih mulus, dan kesalahpahaman berkurang drastis. Semua ini langsung berdampak ke performa.
Komunikasi yang kuat adalah jembatan antara strategi dan eksekusi.
Ketika hubungan renggang, jembatan itu retak.
Ketika hubungan kuat, keputusan mengalir lebih cepat.
Dan menariknya yang membuat hubungan kuat sering kali bukan program besar, melainkan kebiasaan kecil dengan menyapa duluan, mendengarkan dengan sungguh-sungguh, mengajak makan siang, atau sekadar membuat ruang diskusi yang lebih manusiawi.
Ada banyak cara menyelesaikan masalah bisnis. Tapi ada satu cara yang selalu relevan sejak dulu sampai sekarang yakni duduk bersama, ngobrol baik-baik, dan mendengarkan.
Kadang bisnis yang rumit hanya butuh komunikasi yang sederhana.
-SCU & MRP-





