• Masuk
Piawai Bisnis
Advertisement
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Piawai Bisnis
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Beranda Kisah Kadir

Bahagia Hitungan Omzet, Kecut saat Lihat EPE

Obrolan warung kopi yang berakhir dengan wajah pucat

Piawai Bisnis oleh Piawai Bisnis
19/08/2025
pada Kisah Kadir
A A
0
EPE
0
Dibagikan
10
Dilihat

Kadir dan Abdul adalah teman lama. Sama-sama merintis bisnis kuliner, meski produknya berbeda. Sejak awal, mereka punya kebiasaan yang jarang dimiliki pebisnis lain. Duduk bersama untuk berbagi cerita, membandingkan catatan, sampai bertukar strategi. Mereka menyebutnya ngopi sambil belajar. 

Hari itu, pertemuan mereka berjalan seperti biasa. Kadir bercerita tentang inovasi menu terbaru yang sedang digarapnya, sementara Abdul mengisahkan rencana membuka cabang di kota sebelah. Percakapan mengalir ringan, sesekali diselingi tawa tentang pengalaman lucu menghadapi pelanggan. 

Namun, semuanya berubah ketika notifikasi di ponsel Abdul berbunyi. Ada artikel baru dari Piawai Bisnis dengan judul Earning per Employee (EPE), Mengukur Produktivitas Bisnis Dengan Lebih Jernih. 

“Eh, Dir, ini menarik. Pernah dengar soal EPE?” tanya Abdul sambil menunjukkan layar ponselnya. 

Kadir menggeleng. Mereka berdua mulai membaca, lalu spontan mengambil kertas untuk menghitung rasio masing-masing. Pertama-tama dengan omzet, kemudian dibagi jumlah karyawan. 

Hasilnya membuat mereka terdiam. 

Nilai EPE yang keluar ternyata rendah, jauh di bawah harapan mereka. Padahal omzet sudah lumayan, bahkan Abdul merasa bisnisnya sedang naik daun. Tapi angka itu menunjukkan hal lain: karyawan mereka mungkin tidak seproduktif yang dibayangkan. 

Wajah yang tadinya penuh semangat berubah muram. Ada rasa tak nyaman, semacam tamparan keras dari kenyataan. 

“Kalau begini, artinya kita selama ini sibuk ngejar omzet, tapi nggak sadar biaya yang kita tanggung lebih besar dari yang kita kira,” ujar Kadir lirih. 

Abdul menatap kosong ke cangkir kopinya. “Iya. Kita selalu bangga buka cabang baru, tambah pegawai, atau naik omzet. Tapi kalau EPE rendah, itu tanda bahaya. Artinya sistem kita bocor. Produktivitas lemah, profit tipis, risiko besar.” 

Mereka terdiam cukup lama. Di benak masing-masing, muncul pertanyaan yang sama: apakah kita siap berubah, atau justru sedang berjalan menuju kehancuran?

 

Biaya Perubahan vs Biaya Kehancuran 

Kisah Kadir dan Abdul adalah cermin banyak pelaku usaha. Mereka bersemangat mengejar pertumbuhan, tapi lupa menghitung rasio yang menentukan kesehatan jangka panjang. 

Mengubah cara kerja tentu butuh biaya. Meningkatkan produktivitas karyawan memerlukan investasi. Pelatihan, sistem manajemen, bahkan teknologi. Itu terasa berat di awal. Tapi bandingkan dengan biaya “kehancuran”  ketika bisnis runtuh karena efisiensi rendah, profit habis, dan kompetitor lebih gesit. 

  • Biaya perubahan itu terukur, meski terasa mahal. 
  • Biaya kehancuran jauh lebih mahal, meski sering tak terlihat sampai semuanya terlambat. 

Kadir dan Abdul akhirnya sepakat, ini bukan soal angka semata. Ini tentang pilihan berani berbenah, atau pelan-pelan ditinggalkan zaman. 

-SCU & MRP-

Tags: #operasional#strategi
Sebelumnya

Earning Per Employee: Mengukur Produktivitas Bisnis dengan Lebih Jernih

Selanjutnya

CEO, Teknisi, dan Alat yang Terlalu Banyak

Piawai Bisnis

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Terkait Pos

Cepat Ramai, Cepat Hilang

cepat ramai
oleh Piawai Bisnis
21/09/2025
0

Di suatu pagi yang biasanya penuh semangat, Kadir justru termenung di ruang kerjanya. Angka-angka penjualan bulan itu terpampang jelas di...

SelengkapnyaDetails

Pak Anwar dan Makna Tanggung Jawab Sejati

tanggung jawab
oleh Piawai Bisnis
12/09/2025
0

Di ruang rapat sederhana yang hari itu disulap menjadi aula kecil, seluruh karyawan berkumpul. Suasana hangat terasa saat Kadir, direktur...

SelengkapnyaDetails

Saya Tidak Pernah Memecat Karyawan.

memecat
oleh Piawai Bisnis
28/08/2025
0

Malam itu, Kadir menerima undangan istimewa. RT sebelah sedang merayakan HUT Republik Indonesia ke-80. Tidak seperti RT kebanyakan, komplek ini...

SelengkapnyaDetails

Clarity is kindness.

clarity
oleh Piawai Bisnis
28/08/2025
0

Seandainya orang bisa membaca pikiran, Kadir mungkin tak perlu repot-repot menjelaskan panjang lebar. Tak perlu memberi arahan detail. Tak perlu...

SelengkapnyaDetails

Senyum Tulus, Layanan Berkelas: Pelajaran Bisnis dari BCA

senyum
oleh Piawai Bisnis
26/08/2025
0

Suatu pagi, Abdul kembali mengantar anaknya ke cabang BCA. Ini sudah yang kedua kalinya dalam sebulan. Aktivasi mobile banking anaknya...

SelengkapnyaDetails

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Kategori

  • Analisis (9)
  • Insight (71)
  • Kisah Kadir (23)
  • Tips Praktis (8)

Arsip

  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store

© 2025 Piawai Bisnis - Platform Belajar Manajemen Bisnis.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?