Kadir dan Abdul adalah teman lama. Sama-sama merintis bisnis kuliner, meski produknya berbeda. Sejak awal, mereka punya kebiasaan yang jarang dimiliki pebisnis lain. Duduk bersama untuk berbagi cerita, membandingkan catatan, sampai bertukar strategi. Mereka menyebutnya ngopi sambil belajar.
Hari itu, pertemuan mereka berjalan seperti biasa. Kadir bercerita tentang inovasi menu terbaru yang sedang digarapnya, sementara Abdul mengisahkan rencana membuka cabang di kota sebelah. Percakapan mengalir ringan, sesekali diselingi tawa tentang pengalaman lucu menghadapi pelanggan.
Namun, semuanya berubah ketika notifikasi di ponsel Abdul berbunyi. Ada artikel baru dari Piawai Bisnis dengan judul Earning per Employee (EPE), Mengukur Produktivitas Bisnis Dengan Lebih Jernih.
“Eh, Dir, ini menarik. Pernah dengar soal EPE?” tanya Abdul sambil menunjukkan layar ponselnya.
Kadir menggeleng. Mereka berdua mulai membaca, lalu spontan mengambil kertas untuk menghitung rasio masing-masing. Pertama-tama dengan omzet, kemudian dibagi jumlah karyawan.
Hasilnya membuat mereka terdiam.
Nilai EPE yang keluar ternyata rendah, jauh di bawah harapan mereka. Padahal omzet sudah lumayan, bahkan Abdul merasa bisnisnya sedang naik daun. Tapi angka itu menunjukkan hal lain: karyawan mereka mungkin tidak seproduktif yang dibayangkan.
Wajah yang tadinya penuh semangat berubah muram. Ada rasa tak nyaman, semacam tamparan keras dari kenyataan.
“Kalau begini, artinya kita selama ini sibuk ngejar omzet, tapi nggak sadar biaya yang kita tanggung lebih besar dari yang kita kira,” ujar Kadir lirih.
Abdul menatap kosong ke cangkir kopinya. “Iya. Kita selalu bangga buka cabang baru, tambah pegawai, atau naik omzet. Tapi kalau EPE rendah, itu tanda bahaya. Artinya sistem kita bocor. Produktivitas lemah, profit tipis, risiko besar.”
Mereka terdiam cukup lama. Di benak masing-masing, muncul pertanyaan yang sama: apakah kita siap berubah, atau justru sedang berjalan menuju kehancuran?
Biaya Perubahan vs Biaya Kehancuran
Kisah Kadir dan Abdul adalah cermin banyak pelaku usaha. Mereka bersemangat mengejar pertumbuhan, tapi lupa menghitung rasio yang menentukan kesehatan jangka panjang.
Mengubah cara kerja tentu butuh biaya. Meningkatkan produktivitas karyawan memerlukan investasi. Pelatihan, sistem manajemen, bahkan teknologi. Itu terasa berat di awal. Tapi bandingkan dengan biaya “kehancuran” ketika bisnis runtuh karena efisiensi rendah, profit habis, dan kompetitor lebih gesit.
- Biaya perubahan itu terukur, meski terasa mahal.
- Biaya kehancuran jauh lebih mahal, meski sering tak terlihat sampai semuanya terlambat.
Kadir dan Abdul akhirnya sepakat, ini bukan soal angka semata. Ini tentang pilihan berani berbenah, atau pelan-pelan ditinggalkan zaman.
-SCU & MRP-





