“Berhenti alasan. Mulai cari jalan.”
Kalimat itu meluncur dari mulut Kadir, datar, tanpa emosi meledak. Tapi justru karena nadanya tenang, tim tahu ini serius. Bukan sekadar teguran, tapi titik balik.
Hari itu bukan pertama kalinya laporan tim mundur dari target. Bukan juga kali pertama sistem digital yang dibangun dengan susah payah justru tak dijalankan sebagaimana mestinya. Tapi berbeda dari biasanya, Kadir tak mengangkat suara. Ia hanya meletakkan laptop, menatap satu per satu wajah timnya, lalu mengucapkan lima kata tadi.
Pelan. Tapi menghantam.
Selama ini, setiap kendala selalu diikuti dengan daftar panjang alasan:
“Soalnya kliennya lambat bales.”
“Kita belum terbiasa pakai sistem baru.”
“Waktu training terlalu singkat.”
“Internet sempat error, Pak.”
Kadir diam. Ia paham, semua itu bisa jadi benar. Tapi ia juga tahu jika bisnis ini ingin bertahan, apalagi tumbuh, maka budaya alasan harus diakhiri. Yang dibutuhkan bukan jawaban defensif, tapi tindakan progresif.
…
Beberapa bulan sebelumnya, Kadir yang memimpin usaha distribusi bahan makanan skala menengah, tengah berambisi naik level. Ia mengundang konsultan, merancang SOP, bahkan membangun dashboard monitoring berbasis digital.
Semua tampak siap.
Namun realita tak berjalan seperti rencana.
SOP hanya jadi dokumen yang dicetak dan dilaminating, tapi jarang dibuka. Sistem digital hanya dipakai saat Kadir mengawasi. Selebihnya? Tim kembali ke cara manual pakai WhatsApp grup, Excel offline, dan “catatan pribadi” masing-masing.
Apa yang salah?
…
Kadir sempat menyalahkan banyak hal. Mungkin sistemnya terlalu rumit. Mungkin pelatihannya kurang. Mungkin orang-orangnya tidak cocok. Tapi setelah refleksi panjang, ia sadar masalah intinya bukan alat atau orang, melainkan pola pikir.
Sistem tak akan hidup kalau tidak dibiasakan. Perubahan tak akan berjalan jika selalu dicari alasan untuk menolaknya. Itulah yang memicu kalimat itu keluar. Bukan untuk menghakimi. Tapi untuk mengundang kesadaran bersama.
…
Setelah pertemuan hari itu, Kadir membuat satu kebijakan kecil tapi berdampak besar: setiap tim yang menghadapi kendala, wajib menyampaikan minimal dua alternatif solusi sebelum melapor ke atasan. Bukan lagi sekadar melaporkan masalah, tapi juga membawa opsi jalan keluar.
Hasilnya tidak instan. Tapi dalam dua bulan, terjadi perubahan.
Tim logistik mulai merancang sistem rotasi harian agar update stok lebih disiplin. Tim pemasaran mulai membentuk mini squad internal untuk saling bantu desain konten. Bahkan tim keuangan yang biasanya pasif mulai mengusulkan revisi alur reimbursement agar lebih cepat tanpa mengorbankan akurasi.
Semua berawal dari satu prinsip,
Berhenti alasan. Mulai cari jalan.
…
Hari ini, budaya itu mulai terasa. Saat ada kendala, tak lagi terdengar kalimat “tapi kan…” atau “nggak bisa karena…”. Yang ada justru “bagaimana kalau…” atau “mungkin kita bisa coba…”.
Bagi Kadir, perubahan sistem bukan lagi soal aplikasi atau dokumen. Tapi soal pola pikir apakah tim hanya ingin nyaman, atau ingin maju.
Karena dalam bisnis, yang bertahan bukan yang punya alat canggih. Tapi yang berani mencari cara di tengah ketidakpastian.
Dan semuanya dimulai… saat berhenti mencari alasan.
…
Jika Anda pemilik bisnis seperti Kadir, mungkin saatnya bertanya:
Apakah tim Anda masih sibuk mencari alasan?
Atau sudah mulai terbiasa mencari jalan?
-SCU & MRP-





