Membaca adalah jendela pengetahuan. Ungkapan ini sering kita dengar, namun realitasnya, jendela itu masih jarang benar-benar dibuka lebar oleh masyarakat Indonesia. Data UNESCO, PISA, hingga survei lokal menunjukkan bahwa tingkat literasi di Indonesia masih tertinggal dibandingkan banyak negara lain. Membaca belum menjadi budaya yang mengakar, melainkan sekadar keterampilan teknis yang digunakan saat diperlukan.
Pertanyaannya, mengapa minat baca masyarakat Indonesia rendah? Dan apakah pola membaca ini hanya berdampak pada kemampuan akademik, atau juga berpengaruh lebih jauh, misalnya dalam kepemimpinan dan manajerial di dunia bisnis?
Faktor-faktor Penyebab Rendahnya Minat Baca
Ada beberapa faktor yang saling terkait dan membuat minat baca masyarakat Indonesia relatif rendah.
Pertama, adalah faktor budaya. Tradisi lisan di Indonesia jauh lebih kuat daripada tradisi tulisan. Cerita rakyat, nasihat, hingga pengetahuan praktis sehari-hari lebih sering diturunkan lewat tuturan lisan daripada lewat buku. Akibatnya, membaca tidak menjadi kebutuhan mendasar dalam kehidupan sosial.
Kedua, adalah faktor pendidikan. Sistem pendidikan di Indonesia masih cenderung menekankan pada hafalan dibandingkan pemahaman. Siswa dibiasakan mengulang materi persis seperti yang ada di buku atau penjelasan guru tanpa perlu menganalisis lebih dalam. Pola ini membuat banyak orang menganggap membaca identik dengan menghafal. Dampaknya, membaca terasa berat, melelahkan, dan membosankan. Padahal, esensi membaca adalah memahami, bukan sekadar mengingat.
Ketiga, faktor akses dan fasilitas. Walaupun perkembangan teknologi sudah membuka akses digital terhadap berbagai bacaan, masih ada kesenjangan literasi antara kota besar dan daerah. Buku fisik masih relatif mahal, perpustakaan sering sepi peminat, dan tidak semua orang merasa nyaman mencari pengetahuan melalui buku atau literatur panjang.
Keempat, adalah faktor kebiasaan. Generasi muda kini tumbuh dengan budaya visual dan audio yang lebih dominan. Video singkat, podcast, dan media sosial membentuk pola konsumsi informasi yang serba cepat dan instan. Dalam konteks ini, membaca dianggap kalah menarik dibandingkan format hiburan lain yang lebih ringan dan segera memuaskan rasa ingin tahu.
Menghafal vs. Memahami.
Warisan Sistem Pendidikan
Salah satu penyebab utama lambatnya seseorang dalam membaca buku adalah kebiasaan menghafal yang ditanamkan sejak sekolah. Pola ini membuat pembaca cenderung berhenti terlalu lama pada setiap kalimat, berusaha mengingat kata demi kata, alih-alih menangkap gagasan besar yang disampaikan penulis. Akibatnya, kecepatan membaca rendah dan proses memahami pun justru tidak efisien.
Misalnya, seorang siswa yang terbiasa belajar dengan metode hafalan akan membaca sebuah bab buku dengan pola linear. Kalimat pertama harus diingat, lalu kalimat kedua, dan seterusnya. Begitu ia lupa satu bagian, ia akan merasa gagal memahami keseluruhan. Sebaliknya, pembaca yang terbiasa memahami akan lebih fokus pada ide pokok tiap paragraf, lalu mengaitkannya dengan konteks yang lebih luas. Ia tidak terjebak pada detail kata, melainkan menangkap makna.
Dampak jangka panjang dari pola menghafal ini cukup serius. Banyak orang dewasa yang merasa membaca buku adalah kegiatan yang berat, padahal yang membuat berat bukan bukunya, melainkan cara mereka mendekatinya. Membaca dianggap seperti ujian harus dihafal, harus diingat semua, dan kalau lupa berarti gagal. Pandangan ini membuat banyak orang akhirnya menghindar dari buku.
Membaca sebagai Proses Menyerap Gagasan
Untuk mengubah pola ini, penting disadari bahwa membaca seharusnya adalah proses menyerap gagasan, bukan menghafal kata. Buku adalah percakapan panjang antara penulis dan pembaca. Dalam percakapan, kita tidak perlu mengingat kata demi kata, melainkan memahami maksud pembicara. Demikian pula dengan membaca yang penting adalah memahami ide besar, lalu menautkannya ke pengalaman atau pengetahuan lain yang sudah kita miliki.
Orang yang membaca untuk memahami akan terbiasa melihat pola, menemukan hubungan antar ide, dan akhirnya mampu menciptakan gagasan baru. Sebaliknya, orang yang membaca hanya untuk menghafal sering kali kehilangan konteks, mudah lupa, dan tidak mampu menggunakan informasi dalam situasi nyata.
Konsekuensi pada Kehidupan Sehari-hari
Minat baca yang rendah dan pola baca yang salah tidak hanya berdampak pada rendahnya prestasi akademik, tetapi juga pada kehidupan profesional dan sosial. Dalam dunia kerja, misalnya, seorang karyawan yang tidak terbiasa membaca dengan pemahaman mendalam akan kesulitan menafsirkan laporan panjang, menganalisis dokumen strategis, atau menyusun argumen yang solid. Ia lebih mudah puas pada ringkasan singkat dan tidak terbiasa menggali detail yang penting.
Sebaliknya, mereka yang memiliki kebiasaan membaca secara kritis dan reflektif cenderung lebih unggul dalam memimpin rapat, menyusun strategi, atau mengambil keputusan penting. Kemampuan membaca bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga kedalaman dalam menangkap inti persoalan.
Baca Juga :
7 Cara Mengubah Kegagalan Launching Produk Baru yang Gagal Menjadi Lompatan Besar.
Membaca, Menghafal, dan Kepemimpinan dalam Dunia Bisnis
Jika diperhatikan lebih jauh, pola baca yang terbentuk sejak kecil ternyata memiliki kaitan erat dengan pola kepemimpinan dan manajerial seseorang dalam dunia bisnis. Seorang pemimpin yang terbiasa membaca hanya untuk menghafal sering kali terjebak pada pengambilan keputusan yang dangkal. Ia cepat puas dengan data, laporan, atau angka-angka di permukaan tanpa mencoba memahami konteks di baliknya. Akibatnya, strategi yang dibangun bisa rapuh karena hanya bertumpu pada hafalan informasi, bukan pada pemahaman yang mendalam.
Sebaliknya, pemimpin yang memiliki kebiasaan membaca untuk memahami dan menganalisis akan terbiasa menautkan informasi ke dalam kerangka berpikir yang lebih luas. Ia tidak sekadar tahu “apa” yang sedang terjadi, melainkan juga bisa menjawab “mengapa” dan “bagaimana” sesuatu bisa terjadi. Pola ini membuatnya mampu menyusun strategi bisnis yang lebih adaptif, menimbang risiko dengan cermat, dan menciptakan solusi yang relevan dengan kondisi nyata.
Di ruang manajerial, kebiasaan ini tampak jelas dalam cara seorang pemimpin mengelola tim. Mereka yang terlatih membaca secara kritis biasanya lebih sabar mendengar, lebih piawai menganalisis masalah, dan lebih terbuka pada perspektif berbeda. Ini kontras dengan pemimpin yang hanya mengandalkan hafalan, yang cenderung kaku, sulit menerima ide baru, dan cepat mengambil keputusan hanya berdasarkan “rumus” atau kebiasaan lama.
Dalam dunia bisnis yang penuh ketidakpastian, seorang pemimpin dituntut untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Buku, artikel, laporan industri, bahkan tren digital adalah bahan bacaan yang membutuhkan pemahaman cepat sekaligus mendalam. Kebiasaan membaca untuk memahami bukan sekadar menghafal adalah fondasi penting bagi pola kepemimpinan visioner dan manajerial yang efektif.
Akhirnya, rendahnya minat baca di masyarakat memang persoalan kultural. Namun, pada level individu, terutama bagi mereka yang memimpin bisnis, mengubah pola membaca bisa menjadi titik balik penting. Dengan berlatih membaca secara kritis, pemimpin akan menemukan dirinya lebih siap dalam mengelola perubahan, lebih matang dalam mengambil keputusan, dan lebih tangguh dalam memimpin orang lain.
Kepemimpinan yang kokoh ternyata berawal dari hal sederhana, cara membaca.
-SCU & MRP-





