Di suatu pagi yang biasanya penuh semangat, Kadir justru termenung di ruang kerjanya. Angka-angka penjualan bulan itu terpampang jelas di layar laptop. Garis tren yang biasanya naik stabil, kini menurun tajam. Ia mengucek matanya, memastikan bukan salah input. Namun tidak ada yang keliru. Penjualan benar-benar jatuh drastis.
Kadir gelisah. Tim pemasaran sudah bekerja keras, promosi rutin tetap dijalankan, bahkan pelanggan setia masih terlihat datang. Namun ada sesuatu yang berbeda. Ia mencoba mengingat kembali suasana toko sebulan terakhir. Memang, antrean tidak sepanjang biasanya. Pembelian besar dari pelanggan lama juga mulai berkurang.
Setelah ditelusuri, jawabannya muncul ada kompetitor baru yang membuka usaha sejenis hanya beberapa blok dari tokonya.
Dan seperti sebuah pesta besar, toko itu langsung dipenuhi kerumunan. Antrean panjang terlihat sampai ke tepi jalan, ramai dibicarakan di media sosial, bahkan masuk liputan lokal. Dalam hati, Kadir mencoba tenang. Ia tahu persaingan itu wajar. Namun tak bisa dipungkiri, pemandangan itu membuat dada sesak.
Timnya pun mulai was-was. “Pak, gimana kalau pelanggan kita pindah semua ke sana?” ujar seorang staf dengan nada cemas. Kadir hanya tersenyum tipis, meski dalam hatinya pertanyaan itu sama kuatnya dengan ketakutan mereka.
Gelombang yang Mendadak Surut
Namun yang terjadi justru mengejutkan. Hanya dalam waktu dua bulan, toko yang semula membeludak itu tiba-tiba sepi. Sangat sepi. Kursi yang dulu penuh, kini kosong. Antrean yang dulu mengular, kini tak ada.
Fenomena itu membuat Kadir teringat pada kisah tahun lalu. Seorang rekannya, Joko, juga pernah mengeluh tentang kompetitor baru yang mendadak ramai luar biasa. Semua orang ingin mencoba. Media sosial penuh unggahan pelanggan yang memamerkan produk mereka. Tetapi, seperti mimpi yang terlalu cepat usai, dalam hitungan bulan usaha itu menghilang, tenggelam dalam sepi.
Kini, Kadir menyaksikan hal yang sama dengan matanya sendiri. Gelombang besar yang datang tiba-tiba, tetapi surut lebih cepat dari yang dibayangkan.
Budaya Kolektif, Cepat Ramai, Cepat Hilang
Fenomena ini tidak hanya soal persaingan bisnis. Ia mencerminkan sesuatu yang lebih dalam: budaya kolektif konsumen di Indonesia.
Masyarakat kita dikenal mudah penasaran, cepat berbondong-bondong mencoba hal baru, terutama jika dikemas dengan promosi menarik atau nuansa kekinian. Antrean panjang seolah menjadi validasi sosial jika orang lain ramai-ramai datang, maka kita pun merasa harus ikut mencoba.
Namun di balik euforia itu, ada kecenderungan lain cepat bosan. Setelah rasa penasaran terpuaskan, konsumen mudah berpindah ke tren berikutnya. Produk yang semula viral, tiba-tiba tak lagi dibicarakan. Ramai hanya sesaat, lalu hilang tanpa bekas.
Bagi pelaku usaha, ini bagaikan pedang bermata dua. Ramai saat launching bisa memberikan energi luar biasa, tetapi jika tidak diikuti strategi jangka panjang, justru bisa menjerumuskan. Karena bisnis bukan hanya soal memulai dengan meriah, tetapi juga menjaga agar bara api tidak padam.
Antara Mengukur dan Mengira-ngira
Kadir merenung. Ia menyadari bahwa banyak pelaku usaha, termasuk dirinya, sering terjebak pada ilusi keramaian. Saat melihat pelanggan membeludak, kita merasa bisnis aman. Saat media sosial ramai menyebut nama brand kita, kita merasa sudah menang.
Padahal, seperti pepatah manajemen “Apa yang tidak diukur, tidak bisa dikelola. Apa yang tidak dievaluasi, tidak bisa diperbaiki.”
Kompetitor yang sempat meramaikan pasar mungkin terlalu percaya diri pada antrian panjang, tetapi lalai menghitung margin. Mereka mengira harga promo masih menguntungkan, padahal biaya operasional diam-diam menggerus arus kas. Mereka mengira pelanggan akan bertahan, padahal daya tarik awal itu tidak pernah dijaga dengan kualitas dan inovasi.
Akhirnya, bisnis itu hidup dalam ilusi keberhasilan sesaat hingga akhirnya roboh oleh realitas.
Ilusi Keramaian dan Strategi Bertahan
Kisah Kadir memberi pelajaran bahwa keberlanjutan bisnis tidak ditentukan oleh ramainya hari pertama, melainkan oleh konsistensi hari-hari setelahnya. Ada beberapa hal yang seharusnya menjadi fokus pemilik usaha:
- Menjaga kualitas, bukan sekadar kuantitas. Antrean panjang tidak ada artinya jika pelanggan tidak kembali.
- Mengendalikan keuangan dengan disiplin. Promo boleh menarik, tetapi harus jelas dampaknya pada arus kas.
- Melakukan evaluasi rutin. Data penjualan, margin keuntungan, dan perilaku pelanggan harus menjadi dasar pengambilan keputusan, bukan sekadar perasaan.
- Berinovasi secara berkelanjutan. Konsumen yang cepat bosan hanya bisa dijaga dengan pengalaman baru yang relevan, bukan hanya mengandalkan tren awal.
Pemimpin dan Seni Menahan Gelombang
Bagi Kadir, kejadian ini juga menjadi cermin kepemimpinan. Ia sadar, mudah sekali terbawa panik ketika kompetitor mendadak ramai. Namun yang lebih penting adalah bagaimana tetap tenang, mengukur kekuatan internal, dan menyiapkan langkah strategis.
Pemimpin yang terbiasa dengan kontrol dan evaluasi akan lebih siap menghadapi gelombang persaingan. Ia tahu kapan harus menahan, kapan harus menyesuaikan, dan kapan harus melangkah maju.
Sebaliknya, pemimpin yang hanya mengandalkan asumsi akan mudah terseret arus. Ia panik saat sepi, terlalu euforia saat ramai, dan kehilangan arah saat tren berubah.
Baca Juga :
Retain, Reallocate, dan Release. Cara Strategis Menjaga Kesehatan Organisasi
Bukan Soal Siapa yang Ramai, Tapi Siapa yang Bertahan
Fenomena “cepat ramai, cepat hilang” ini seakan menjadi pengingat bahwa dunia bisnis bukan arena sprint, melainkan maraton. Ramai saat launching hanyalah awal. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah bisnis masih akan bertahan setelah satu tahun, tiga tahun, bahkan lima tahun?
Kadir akhirnya menarik napas panjang. Ia belajar bahwa fokus utama bukan menyaingi keramaian sesaat, melainkan membangun fondasi yang kokoh. Karena pada akhirnya, bukan siapa yang paling ramai di awal, melainkan siapa yang paling konsisten di perjalanan.
Bisnis yang tidak dikontrol hanya akan berjalan. Tapi bisnis yang dievaluasi akan berkembang.
-SCU & MRP-





