Ide sering dianggap sebagai bahan bakar utama. Banyak orang percaya semakin banyak ide yang dimiliki, semakin besar peluang untuk sukses. Tidak salah, tetapi tidak sepenuhnya benar.
Banyak ide memang bisa membuka pintu membuka perspektif baru, menciptakan kemungkinan yang belum terpikirkan, dan memberi ruang eksplorasi. Namun, ide tanpa fokus ibarat berdiri di depan banyak pintu tanpa pernah benar-benar melangkah masuk.
Ide Adalah Awal, Bukan Akhir
Sebagai pebisnis atau pemimpin, kita akan selalu dibanjiri ide. Entah dari brainstorming tim, masukan pelanggan, atau inspirasi dari tren pasar. Tapi satu hal yang sering terlewat, ide hanyalah titik awal. Nilai sejati sebuah ide baru muncul ketika ada fokus yang mengarahkan energi, waktu, dan sumber daya untuk mewujudkannya.
Banyak pengusaha pemula terjebak dalam perangkap “shiny object syndrome” selalu mengejar ide-ide baru karena terlihat lebih menarik, lebih segar, atau lebih menjanjikan. Akhirnya, mereka tidak pernah menyelesaikan satu pun ide sampai tuntas. Energi habis, sumber daya terkuras, dan bisnis pun berjalan di tempat.
Fokus adalah Seni Memilih dan Mengorbankan
Fokus bukan berarti menolak semua ide baru. Fokus adalah seni memilih menentukan ide mana yang benar-benar sejalan dengan tujuan, visi, dan kapasitas organisasi. Sama pentingnya, fokus juga berarti berani mengorbankan ide-ide lain yang mungkin terlihat menjanjikan, tetapi tidak relevan pada saat ini.
Steve Jobs pernah berkata bahwa inovasi bukan hanya soal menciptakan hal baru, melainkan juga soal mengatakan “tidak” pada seribu hal lain. Fokus membuat kita tidak sekadar sibuk, tetapi produktif. Tidak sekadar banyak bergerak, tetapi benar-benar maju ke arah yang diinginkan.
Dua Pendekatan yang Berbeda
Bayangkan dua pengusaha yang sama-sama memiliki 10 ide bisnis. Pengusaha pertama mencoba menjalankan lima ide sekaligus. Membuka toko online, menjual kursus digital, memulai bisnis makanan, mengelola event, dan mengembangkan aplikasi. Awalnya terlihat hebat penuh aktivitas dan energi. Namun, karena sumber daya terbagi, semua bisnis berjalan setengah matang. Tidak ada yang benar-benar menembus pasar.
Pengusaha kedua memilih hanya satu ide misalnya toko online. Ia fokus mengoptimalkan operasional, membangun bisnis, dan mengeksekusi strategi pemasaran. Dalam beberapa tahun, toko onlinenya berkembang pesat, menjadi kokoh, lalu memberi ruang untuk melahirkan ide baru dengan fondasi yang lebih kuat.
Perbedaan keduanya terletak bukan pada jumlah ide, melainkan pada fokus dalam mengeksekusi.
Baca Juga :
Vision & Strategy. Mengapa Pemimpin Wajib Melihat Jauh ke Depan dengan Strategi yang Jelas.
Fokus dan Keberanian Mengatakan “Tidak”
Sering kali, lebih sulit mengatakan “tidak” daripada mengatakan “ya”. Menolak ide baru bisa terasa seperti melewatkan peluang. Namun, fokus membutuhkan keberanian untuk menunda atau mengabaikan hal-hal yang tidak membawa dampak langsung pada tujuan utama.
Fokus bukan berarti menutup diri dari inovasi. Justru sebaliknya, fokus memastikan setiap inovasi yang dilakukan benar-benar menambah nilai, bukan sekadar menambah beban.
Bagaimana Menjaga Fokus dalam Bisnis
1. Tentukan prioritas yang jelas. Tanyakan, ide mana yang paling relevan dengan visi jangka panjang dan kapasitas saat ini?
2. Buat batasan waktu dan sumber daya. Jangan jalankan banyak hal sekaligus. Uji satu ide, eksekusi tuntas, lalu evaluasi.
3. Biasakan menulis daftar “not now”. Ide-ide bagus tidak perlu dibuang, cukup ditunda. Simpan di daftar untuk dievaluasi kembali saat waktunya tepat.
4. Latih disiplin eksekusi. Fokus tidak hanya tentang memilih, tetapi juga konsistensi menjalankan sampai selesai.
. . .
Masuk, Bukan Hanya Membuka
Dalam bisnis dan kepemimpinan, banyak ide memang penting. Tapi lebih penting lagi adalah keberanian untuk memilih satu pintu, memasukinya, dan benar-benar menjalaninya sampai akhir.
Banyak ide bisa membuka pintu. Fokuslah yang membuat kita benar-benar masuk.
-SCU & MRP-





