Di sebuah ruangan rapat yang sunyi, seorang pemimpin berdiri di depan timnya. Di tangannya ada selembar kertas berisi target pertumbuhan 30% dalam setahun. Ia membacakan angka itu dengan lantang, berharap timnya bersemangat. Namun wajah-wajah di hadapannya hanya diam, mata kosong, kepala sedikit mengangguk tanpa antusiasme.
Beberapa hari kemudian, pemimpin yang sama mencoba cara berbeda. Ia mengajak timnya membayangkan:
“Bayangkan lima tahun dari sekarang, produk kita ada di setiap kota di Indonesia. Bayangkan seorang pelanggan yang tersenyum lega karena layanan kita memudahkan hidupnya. Pertumbuhan 30% tahun ini bukan sekadar angka, tapi langkah pertama menuju impian itu.”
Suasana berubah. Mata yang tadinya kosong kini berbinar. Angka yang semula terasa kaku tiba-tiba menjadi perjalanan bersama. Itulah kekuatan cerita.
Cerita yang Menggerakkan
Sejarah membuktikan, visi tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu dibalut dengan narasi.
Steve Jobs, ketika memperkenalkan laptop besutan Apple tidak berkata “Ini adalah laptop paling tipis di dunia, tebalnya 1,9 cm.”. Tapi ia membuka amplop sambil berkata : ” Ini adalah Macbook Air “
Satu kalimat sederhana yang mengubah teknologi dingin menjadi pengalaman hangat. Orang tidak hanya membeli produk, mereka membeli cerita tentang siapa diri mereka saat menggunakannya.
Pemimpin yang menguasai storytelling mampu melakukan hal serupa dengan timnya. Ia tidak sekadar menyebut target, ia mengajak membayangkan masa depan bersama.
Cerita yang Menjaga Identitas
Di balik setiap organisasi besar selalu ada kisah yang diwariskan. Ada perusahaan yang masih terus menceritakan ulang bagaimana pelanggan pertama datang dan memberi kepercayaan. Ada pula yang bangga dengan kisah pendiri yang bekerja tanpa lelah, meski hanya ditemani meja kayu rapuh dan secangkir kopi instan.
Kisah-kisah itu bukan sekadar nostalgia. Mereka menjadi perekat identitas, sumber energi yang membuat orang merasa bagian dari sesuatu yang lebih besar.
Pemimpin yang bijak tahu kapan harus menghidupkan kembali cerita-cerita ini. Karena budaya tidak dibangun lewat poster di dinding, melainkan lewat kisah yang diulang, dibagikan, dan dihidupi.
Cerita yang Membuat Keputusan Dapat Diterima
Suatu kali, dua pemimpin menghadapi situasi sama dimana cabang bisnis yang yang mereka kelola terus merugi.
Pemimpin pertama berkata singkat:
“Cabang ini rugi. Kita tutup.”
Pemimpin kedua duduk bersama timnya dan berkata:
“Cabang ini sudah kita perjuangkan dua tahun. Kita belajar banyak dari perjalanan ini. Tapi jika kita terus bertahan, sumber daya akan habis, dan kita tak bisa menjaga pelanggan di cabang lain. Menutup cabang ini bukan kegagalan, tapi cara kita memastikan organisasi tetap kuat.”
Dua keputusan, satu tindakan. Bedanya, yang kedua mengandung cerita. Ada perjalanan, ada makna, ada penghormatan terhadap usaha yang sudah dilakukan. Keputusan yang semula pahit terasa lebih bisa diterima.
Baca Juga :
Laba vs Kas. Mengapa Bisnis Bisa Untung tapi Tidak Punya Uang?
Cerita sebagai Jembatan Imajinasi
Kepemimpinan sejatinya adalah seni membangun imajinasi kolektif. Angka bisa mengatur arah, strategi bisa membuat peta, tetapi cerita-lah yang membuat orang mau melangkah di jalan itu.
Pemimpin hebat tidak hanya berpikir tajam, tetapi juga mampu bercerita. Ia tahu bagaimana mengikat hati dengan visi, bagaimana memberi makna pada keputusan, dan bagaimana menyalakan semangat tim dengan imajinasi bersama.
. . .
Di ujungnya, kepemimpinan adalah kisah yang sedang ditulis bersama. Visi yang hebat tanpa cerita akan terasa kering. Keputusan yang kuat tanpa cerita akan terasa dingin.
Maka, mulailah dari hal sederhana. Ambil satu visi yang ingin Anda sampaikan. Ubah menjadi kisah yang bisa dibayangkan tim. Biarkan mereka tidak hanya mendengar, tapi merasa menjadi bagian dari cerita itu.
Karena seorang pemimpin yang baik, pada dasarnya, adalah seorang pencerita yang ulung.
-SCU & MRP-





