• Masuk
Piawai Bisnis
Advertisement
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Piawai Bisnis
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Beranda Kisah Kadir

Jono dan Jebakan Ambisi

Dorongan Berprestasi Justru Menyabotase Usaha Sendiri 

Piawai Bisnis oleh Piawai Bisnis
09/07/2025
pada Kisah Kadir
A A
0
ambisi
0
Dibagikan
16
Dilihat

“Ambisi bisa jadi bahan bakar atau racun, tergantung kepada siapa kita mengarahkannya.” — Slamet Sucahyo 

Setiap orang punya alasan saat memulai usaha. 

Ada yang ingin bebas waktu. Ada yang ingin lepas dari tekanan kantor. Ada juga yang ingin mengejar impian masa muda yang tertunda. Tapi di balik semua itu, tidak sedikit yang sebenarnya didorong oleh satu hal ambisi untuk menunjukkan bahwa ‘saya bisa lebih baik’. Itulah yang dialami Jono. 

 

Warisan Korporasi yang Positif 

Jono adalah teman lama Kadir. Pernah lama bekerja di dunia profesional, Jono dikenal sebagai orang yang rapi, ambisius, dan berorientasi pada hasil. Kariernya melesat, dan banyak orang menghormati integritas serta disiplinnya. Tapi seperti banyak profesional mapan lainnya, suatu hari ia memutuskan saatnya membuka usaha sendiri. 

Keputusan ini tidak impulsif. Jono menyiapkan tabungan, membuat business plan, bahkan membawa banyak kebiasaan baik dari dunia korporasi ke dalam bisnis kecilnya: 

  1. SOP disusun sejak awal.  
  2. Dashboard monitoring dibuat rutin, 
  3. Tim kecil dilatih dengan struktur kerja yang jelas. 

Namun, ada satu hal yang Jono bawa dari dunia lama yang tanpa sadar justru menjadi bom waktu. Dorongan untuk berprestasi lebih cepat dari orang lain. 

Baca Juga :
Kadir dan Kesalahan Tafsir Tentang Kolaborasi 

 

Menyaingi Sahabat, Menyingkirkan Arah Sendiri 

 Seiring waktu, usaha Jono berjalan, tapi belum sepenuhnya stabil. Di sisi lain, ia melihat Kadir sahabatnya tampak bersinar. Kadir sering tampil di forum, gerainya ramai, dan postingannya di media sosial selalu disukai banyak orang. 

Alih-alih belajar dengan tenang dari proses sendiri, Jono mulai tergoda untuk membandingkan. 

Ia mulai meniru Kadir: 

  1. Gaya visual media sosial, 
  2. Model bisnis yang mirip, 
  3. Bahasa promosi, hingga konten yang tidak sesuai dengan nilai yang ia bawa sendiri. 

Bahkan Jono memaksa timnya mengubah haluan hanya demi terlihat “selevel” dengan apa yang dicapai Kadir. Tanpa disadari, ia kehilangan arah bisnisnya sendiri. 

 

Ambisi yang Tidak Dewasa 

Masalahnya bukan pada ambisinya. Masalahnya adalah ketidakdewasaan dalam mengelola ambisi itu. 

Ambisi yang sehat berangkat dari dalam, dari nilai, dari visi, dan dari panggilan. Tapi ambisi yang tidak matang justru lahir dari rasa ingin menyaingi, ingin mengejar validasi eksternal, dan takut tertinggal dari teman sebaya.

Inilah yang dialami Jono: 

  • Ia tidak lagi bertanya, “Apa yang cocok untuk pasar saya?” 
  • Tapi sibuk bertanya, “Apa yang dilakukan Kadir minggu ini?” 

Jebakan seperti ini sering kali halus. Kelihatannya seperti kerja keras. Tapi sebenarnya hanyalah kerja yang kehilangan arah. 

 

Menjadi Pengusaha, Bukan Pemeran Tambahan 

Bisnis bukan panggung sandiwara. Tapi Jono mulai bermain seperti aktor yang ingin meniru pemeran utama. Ia tidak sadar bahwa yang dibutuhkan pasar bukan “Kadir versi lain”, tapi Jono yang otentik, dengan kekuatan dan pendekatannya sendiri. 

Akhirnya, bukan hanya bisnis yang stagnan, tapi juga semangatnya runtuh. Kekecewaan menumpuk. Energi terkuras untuk membuktikan sesuatu yang bahkan tidak pernah diminta oleh siapa pun. 

Dan yang paling menyakitkan, Kadir sendiri tidak pernah merasa sedang berkompetisi dengannya. 

 

Tumbuh Itu Proses, Bukan Perlombaan 

Kisah Jono bukan kisah yang asing. Banyak pengusaha pemula terjebak pada pola pikir kompetitif yang semu. Mereka terlalu cepat ingin terlihat berhasil, terlalu mudah tergoda membandingkan perjalanan mereka dengan yang lain. 

Padahal dalam dunia usaha: 

  1. Tidak ada garis start yang sama. 
  2. Tidak semua orang punya bekal yang serupa. 
  3. Dan yang paling penting: tidak semua orang punya arah tujuan yang sama. 

“Ambisi akan membawamu jauh, tapi hanya arah yang benar yang akan membawamu utuh.” 

Penulis : Slamet Sucahyo
Editor : Moh. Rizqo

Tags: #leadership
Sebelumnya

Kadir dan Kesalahan Tafsir Tentang Kolaborasi 

Selanjutnya

Bangun kepercayaan, bukan sekadar perhatian.

Piawai Bisnis

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Terkait Pos

Cepat Ramai, Cepat Hilang

cepat ramai
oleh Piawai Bisnis
21/09/2025
0

Di suatu pagi yang biasanya penuh semangat, Kadir justru termenung di ruang kerjanya. Angka-angka penjualan bulan itu terpampang jelas di...

SelengkapnyaDetails

Pak Anwar dan Makna Tanggung Jawab Sejati

tanggung jawab
oleh Piawai Bisnis
12/09/2025
0

Di ruang rapat sederhana yang hari itu disulap menjadi aula kecil, seluruh karyawan berkumpul. Suasana hangat terasa saat Kadir, direktur...

SelengkapnyaDetails

Saya Tidak Pernah Memecat Karyawan.

memecat
oleh Piawai Bisnis
28/08/2025
0

Malam itu, Kadir menerima undangan istimewa. RT sebelah sedang merayakan HUT Republik Indonesia ke-80. Tidak seperti RT kebanyakan, komplek ini...

SelengkapnyaDetails

Clarity is kindness.

clarity
oleh Piawai Bisnis
28/08/2025
0

Seandainya orang bisa membaca pikiran, Kadir mungkin tak perlu repot-repot menjelaskan panjang lebar. Tak perlu memberi arahan detail. Tak perlu...

SelengkapnyaDetails

Senyum Tulus, Layanan Berkelas: Pelajaran Bisnis dari BCA

senyum
oleh Piawai Bisnis
26/08/2025
0

Suatu pagi, Abdul kembali mengantar anaknya ke cabang BCA. Ini sudah yang kedua kalinya dalam sebulan. Aktivasi mobile banking anaknya...

SelengkapnyaDetails

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Kategori

  • Analisis (9)
  • Insight (71)
  • Kisah Kadir (23)
  • Tips Praktis (8)

Arsip

  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store

© 2025 Piawai Bisnis - Platform Belajar Manajemen Bisnis.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?