• Masuk
Piawai Bisnis
Advertisement
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Piawai Bisnis
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Beranda Kisah Kadir

Kadir dan Pelajaran “Lepas Tangan” yang Terlalu Cepat

Piawai Bisnis oleh Piawai Bisnis
16/08/2025
pada Kisah Kadir
A A
0
lepas tangan
0
Dibagikan
32
Dilihat

Ada momen yang sering dialami pebisnis ketika pulang dari sebuah pelatihan. Kepala penuh ide baru, hati berkobar dengan semangat, dan langkah terasa lebih ringan karena yakin sudah menemukan kunci sukses. 

Itulah yang dialami Kadir. 

Ia baru saja mengikuti pelatihan bisnis yang mengupas peran seorang pemimpin. Pelatihannya tidak main-main diikuti oleh pada CEO level Nasional dan tentu pemateri level Internasional. Hotel berbintang lima adalah tempat event 3 hari tiga malam itu.  Di sana, ia mendengar sebuah kalimat yang membuat matanya berbinar: 

“Pemimpin itu tugasnya fokus di area strategis. Urusan teknis, serahkan ke tim.” 

Di telinga Kadir, kalimat ini terdengar seperti lagu pembebasan. Selama ini, ia merasa terlalu sering terjebak di urusan harian memeriksa stok, mengatur jadwal karyawan, bahkan ikut mengurus pesanan. Semua itu membuatnya sulit memikirkan langkah besar.

 

Pulang dengan Misi Baru  

Begitu sampai di tokonya, Kadir tak mau menunda. Ia memanggil seluruh tim ke ruang tengah. Dengan suara mantap, ia berkata: 

“Mulai hari ini, saya nggak akan urus teknis lagi. Titik. Kalian yang pegang semua. Saya mau fokus di strategi.”  

Beberapa karyawan saling pandang. Ada yang senyum ragu, ada yang menunduk. Tidak ada yang berani berkata, “Tapi, kita belum siap.” 

Bagi Kadir, ini langkah besar. Ia membayangkan sekarang punya waktu luang untuk memikirkan inovasi produk, mencari peluang pasar baru, atau membangun koneksi bisnis yang lebih luas. Dalam bathin Kadir berguman, ” Run, Harun tunggu sebentar lagi kita Touring Lintas Kalimantan, hehe ”  

Namun, kenyataan jarang seindah bayangan. 

 

Yang Tidak Disadari Kadir 

Materi pelatihan yang ia dengar tidak pernah mengatakan pemimpin harus meninggalkan teknis secara total, apalagi jika kondisi bisnis belum siap. 

Yang dimaksud pelatih adalah pemimpin perlu mengalihkan fokus dari tenggelam di teknis, menuju memberi porsi lebih besar pada strategi dan proses ini bertahap, dimulai ketika: 

  1. Sistem teknis sudah stabil dan terdokumentasi. 
  2. Tim sudah kompeten menjalankan tugas tanpa perlu dipegang tangan. 
  3. Kontrol kualitas dan alur kerja sudah berjalan otomatis. 

Sayangnya, bisnis Kadir saat itu masih di tahap awal. 

Proses kerja belum tertulis rapi, banyak pekerjaan bergantung pada instruksi langsung darinya, dan kontrol kualitas masih dilakukan secara manual oleh Kadir sendiri. 

Begitu ia benar-benar “angkat tangan” dari teknis, lubang-lubang mulai muncul. 

  1. Pesanan salah kirim. 
  2. Bahan baku telat masuk. 
  3. Komplain pelanggan meningkat. 

Tim yang awalnya diam, mulai kewalahan. 

Kadir yang awalnya sibuk membuat rencana besar, malah harus turun tangan memadamkan api di mana-mana. Ironisnya, akibat “lepas tangan” terlalu cepat malah membuat waktunya untuk strategi justru makin habis untuk memulihkan kekacauan. 

 

Usaha Kecil Punya Realitas Berbeda  

Banyak pemilik usaha kecil tergoda ingin cepat “naik kelas” menjadi CEO yang hanya memikirkan arah besar. Padahal, di skala kecil, pemimpin belum bisa sepenuhnya melepas teknis. 

 

Bukan karena harus jadi “superman” yang mengerjakan segalanya, tapi karena pondasi bisnis belum kokoh. Teknis di tahap awal adalah nyawa operasional. Strategi adalah peta menuju tujuan besar. Jika teknis belum stabil, strategi hanya akan melayang di atas kertas. 

 

Bayangkan seperti membangun rumah kita bisa memikirkan desain interior mewah, tapi kalau fondasi belum selesai, rumah itu tetap rawan roboh. 

 

Pelajaran dari Kadir

Dari pengalaman ini, Kadir menyadari satu hal penting. Waktu yang tepat untuk melepas teknis bukan ditentukan oleh semangat, tapi oleh kesiapan sistem dan tim. 

Di tahap awal, pemimpin justru perlu menguasai teknis dan strategi bukan memilih salah satu. Bedanya, porsi teknis perlahan dikurangi seiring tim dan sistem mulai mandiri. 

Seorang pelatih bisnis senior pernah berkata, “Jangan buru-buru duduk di menara pengawas, kalau kapalmu masih bocor.” 

Kadir kini memutuskan untuk kembali terlibat di teknis, tapi dengan cara berbeda. Ia tidak lagi mengerjakan semuanya sendiri, melainkan mendampingi tim sambil membangun SOP, melatih karyawan, dan membuat mekanisme kontrol kualitas. Targetnya jelas suatu saat, ia benar-benar bisa fokus di strategi tanpa harus khawatir operasional berantakan. 

… 

Pelatihan bisa memberi wawasan berharga, tapi cara menerjemahkannya ke lapangan menentukan hasilnya. Inspirasi besar yang tidak diimbangi pemahaman konteks, bisa berubah jadi jebakan. 

Untuk usaha kecil, langkah “melepaskan teknis” harus dilihat bukan sebagai pintu kebebasan instan, melainkan hasil dari proses disiplin membangun tim dan sistem yang siap jalan sendiri. 

Kadir belajar dengan cara yang agak pahit. Semoga kita bisa belajar dari ceritanya tanpa harus mengalami kekacauan yang sama.

 

-SCU & MRP-

 

Tags: #operasional
Sebelumnya

Perbedaan Loss dan Potential Loss.

Selanjutnya

Berubah atau Punah: Menghitung Biaya Perubahan, Menghitung Biaya Kehancuran

Piawai Bisnis

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Terkait Pos

Cepat Ramai, Cepat Hilang

cepat ramai
oleh Piawai Bisnis
21/09/2025
0

Di suatu pagi yang biasanya penuh semangat, Kadir justru termenung di ruang kerjanya. Angka-angka penjualan bulan itu terpampang jelas di...

SelengkapnyaDetails

Pak Anwar dan Makna Tanggung Jawab Sejati

tanggung jawab
oleh Piawai Bisnis
12/09/2025
0

Di ruang rapat sederhana yang hari itu disulap menjadi aula kecil, seluruh karyawan berkumpul. Suasana hangat terasa saat Kadir, direktur...

SelengkapnyaDetails

Saya Tidak Pernah Memecat Karyawan.

memecat
oleh Piawai Bisnis
28/08/2025
0

Malam itu, Kadir menerima undangan istimewa. RT sebelah sedang merayakan HUT Republik Indonesia ke-80. Tidak seperti RT kebanyakan, komplek ini...

SelengkapnyaDetails

Clarity is kindness.

clarity
oleh Piawai Bisnis
28/08/2025
0

Seandainya orang bisa membaca pikiran, Kadir mungkin tak perlu repot-repot menjelaskan panjang lebar. Tak perlu memberi arahan detail. Tak perlu...

SelengkapnyaDetails

Senyum Tulus, Layanan Berkelas: Pelajaran Bisnis dari BCA

senyum
oleh Piawai Bisnis
26/08/2025
0

Suatu pagi, Abdul kembali mengantar anaknya ke cabang BCA. Ini sudah yang kedua kalinya dalam sebulan. Aktivasi mobile banking anaknya...

SelengkapnyaDetails

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Kategori

  • Analisis (9)
  • Insight (71)
  • Kisah Kadir (23)
  • Tips Praktis (8)

Arsip

  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store

© 2025 Piawai Bisnis - Platform Belajar Manajemen Bisnis.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?