Pagi itu, warung kopi langganan Kadir sudah ramai. Aroma kopi tubruk bercampur suara kursi yang digeser-geser. Kadir duduk di sudut, membuka map cokelat berisi notulen rapat semalam.
Bisnis kulinernya sedang berada di fase ekspansi. Cabang baru di pinggiran kota mulai beroperasi, pesanan katering bertambah, dan timnya kini sudah tiga kali lipat dari tahun lalu. Semua terlihat menjanjikan, tapi juga terasa… menyesakkan.
Beberapa bulan terakhir, ia merasa lebih sering menjadi “mesin tanda tangan” daripada pemimpin. Setiap hari, lembar kebijakan baru datang aturan jam kerja, standar pembelian bahan baku, sistem bonus karyawan, hingga desain seragam baru. Semua terdengar penting. Semua terasa mendesak.
Tapi di tengah tumpukan dokumen itu, ada satu kejadian yang membuat Kadir berhenti sejenak dan berpikir lebih dalam.
Sebuah Kebijakan yang Memukul Balik
Dua minggu lalu, Kadir mengeluarkan aturan baru.
“Area belakang dapur tidak boleh dipakai parkir kendaraan pribadi, untuk memastikan suplai logistik lancar dan aman.”
Logikanya sederhana. Truk pemasok sering kesulitan masuk karena parkiran sempit. Dengan melarang parkir di belakang, jalur logistik akan bersih.
Masalahnya, Kadir lupa satu hal beberapa karyawan yang tinggal jauh sangat bergantung pada motor mereka untuk pulang malam. Tanpa tempat parkir yang aman, mereka harus memarkir di jalan, menanggung risiko kehilangan, atau berjalan jauh ke tempat parkir umum.
Dalam seminggu, keluhan mulai bermunculan. Ada yang menyampaikannya lewat kepala bagian, ada yang hanya menggerutu pelan. Satu orang bahkan mengajukan surat pengunduran diri.
Kadir baru tahu setelah salah satu koki senior memberanikan diri bicara.
“Bos, kami paham ini demi kelancaran barang masuk. Tapi kalau pulang malam, kami khawatir motor di luar hilang. Satu motor hilang, gaji sebulan habis buat ganti.”
Kadir terdiam. Ia sadar, kebijakan yang ia buat memang benar di atas kertas… tapi salah di hati orang yang menjalankannya.
Rapat yang Mengubah Pandangan
Keesokan harinya, Kadir mengumpulkan semua kepala bagian di ruang meeting cabang pusat. Ruangan itu sederhana meja kayu panjang, kursi plastik biru, kipas angin yang berputar lambat di sudut.
“Teman-teman, kita harus bicara soal aturan parkir,” buka Kadir.
Beberapa kepala bagian saling pandang, sebagian menunduk.
“Jujur saja, aturan ini membuat sebagian tim resah,” lanjutnya. “Saya ingin dengar dari kalian termasuk kalau kalian tidak setuju dengan saya.”
Rina, kepala dapur, angkat bicara lebih dulu.
“Bos, saya ngerti ini untuk logistik. Tapi banyak anak-anak yang pulang malam. Mereka takut motornya hilang kalau parkir di luar.”
Pak Rahmat, pemasok langganan, ikut menyahut sambil tersenyum tipis, “Saya juga sering kesulitan masuk kalau parkir penuh, tapi kalau bisa jam masuk barang diatur, mungkin kita bisa berbagi waktu sama karyawan.”
Danu, kepala kasir, mengusulkan, “Bagaimana kalau kita bikin jadwal parkir bergilir? Atau sewa lahan kecil di belakang warung Bu Marni, kan cuma sepelemparan batu dari sini.”
Diskusi berlangsung lebih hangat dari yang Kadir kira. Ide-ide mengalir, suara yang biasanya diam kini ikut menambahkan masukan. Ada tawa kecil di sela obrolan, tapi juga nada serius ketika membicarakan keamanan.
Akhirnya, mereka sepakat kendaraan pribadi boleh parkir di belakang di luar jam masuk logistik. Jalur barang tetap aman, karyawan pun merasa tenang.
Pelajaran yang Menempel
Hari itu, Kadir melihat sendiri ketika orang merasa didengar, mereka bukan hanya mau mengikuti aturan, tapi juga membantu mencari solusi.
Di papan tulis dapur, ia menulis satu kalimat “Kebijakan memberi arah. Kebijaksanaan memberi jiwa.”
Sejak itu, setiap kebijakan besar di bisnis Kadir harus melewati tiga pertanyaan,
1. Siapa yang paling terdampak?
2. Apakah aturan ini memudahkan hidup mereka, atau malah memberatkan?
3. Apakah ada cara yang lebih bijak untuk mencapai tujuan yang sama?
Dengan cara itu, bisnis Kadir tetap punya aturan yang jelas, tapi juga kehangatan yang membuat semua orang mau berjalan bersama.
Dan di warung kopi sore itu, sambil menyesap tegukan terakhirnya, Kadir tahu, kepemimpinan bukan hanya tentang membuat aturan yang benar tapi membuat aturan yang membuat semua orang merasa dihargai.
-SCU & MRP-





