Semakin lama mengamati dinamika kerja di Indonesia, semakin jelas satu hal bahwa banyak masalah di kantor bukan berasal dari beban kerja, melainkan dari cara organisasi memperlakukan manusia di dalamnya. Target tidak tercapai, kolaborasi tersendat, konflik berlarut, hingga turnover tinggi sering kali dilihat sebagai persoalan sistem, kompetensi, atau insentif. Padahal, di balik semua itu, terdapat satu akar yang kerap diabaikan yakni kualitas relasi antar manusia di tempat kerja.
Dalam praktik sehari-hari, banyak organisasi sibuk membangun struktur, menyempurnakan SOP, dan merapikan indikator kinerja. Semua itu penting. Namun, fokus berlebihan pada sistem sering membuat organisasi lupa bahwa sistem dijalankan oleh manusia dengan emosi, konteks hidup, dan kebutuhan untuk dihargai. Ketika manusia direduksi menjadi sekadar fungsi atau angka produktivitas, masalah demi masalah mulai muncul. Bukan karena orang tidak mampu bekerja, tetapi karena mereka tidak lagi merasa menjadi bagian dari sesuatu yang bermakna.
Riset global memperkuat pengamatan ini. Gallup, pada tahun 2023 melalui laporan State of the Global Workplace, menunjukkan bahwa :
Keterikatan karyawan sangat ditentukan oleh kualitas hubungan dengan atasan langsung, bahkan lebih besar pengaruhnya dibandingkan gaji atau fasilitas kerja.
Hubungan yang sehat dengan pemimpin menciptakan rasa aman psikologis, kejelasan peran, dan kepercayaan. Sebaliknya, relasi yang dingin atau penuh tekanan menjadi salah satu pemicu utama rendahnya engagement dan meningkatnya niat untuk keluar dari organisasi. Temuan tersebut menjadi semakin relevan ketika ditempatkan dalam konteks Indonesia.
Studi McKinsey di kawasan Asia, termasuk Indonesia, menunjukkan bahwa alasan utama karyawan bertahan di sebuah organisasi bukan semata-mata kompensasi finansial, melainkan perasaan dihargai dan dianggap bernilai sebagai manusia. Ini menegaskan bahwa loyalitas tidak tumbuh dari angka semata, tetapi dari pengalaman emosional sehari-hari di tempat kerja.
Budaya Indonesia sejak lama dikenal sebagai budaya yang relasional dan kolektivistik. Dalam keseharian, kerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi juga tentang kebersamaan, rasa saling peduli, dan pengakuan sosial.
Namun relasi saja tidak cukup.
Tanpa sistem yang jelas, adil, dan konsisten, relasi yang hangat justru mudah berubah menjadi sumber konflik, kelelahan, dan ketidakpastian. Di titik inilah penting untuk melihat bahwa people dan sistem bukan dua kutub yang saling meniadakan, melainkan satu kesatuan yang saling menopang.
Sistem yang baik menjaga manusia. Relasi yang sehat menghidupkan sistem. Sistem membantu manusia bekerja dengan batas yang jelas, peran yang tegas, dan ekspektasi yang adil. Sementara relasi yang sehat memastikan sistem dijalankan dengan empati, akal sehat, dan rasa hormat. Ketika salah satunya diabaikan, organisasi kehilangan keseimbangannya.
Di sinilah konsep gagasan memanusiakan manusia menjadi penting untuk diangkat kembali dalam praktik kepemimpinan modern. Nguwongke bukan berarti memanjakan atau menghilangkan standar kinerja. Ia adalah cara pandang bahwa setiap orang di dalam organisasi adalah manusia utuh, bukan sekadar peran atau jabatan. Pemimpin yang memanusiakan manusia mau mendengar sebelum menilai, memahami konteks sebelum menghakimi, dan menegur tanpa merendahkan martabat.
Ketika pemimpin memberi ruang dialog, menunjukkan ketulusan untuk memahami kondisi tim, dan menyampaikan arahan dengan cara yang menghormati, yang tumbuh bukan ketakutan, melainkan kepercayaan. Dari kepercayaan inilah lahir komitmen emosional. Orang bekerja bukan hanya karena kewajiban, tetapi karena merasa terhubung dengan tujuan dan merasa dirinya berarti bagi organisasi. Komitmen semacam ini tidak bisa dibeli dengan insentif jangka pendek, tetapi dibangun melalui konsistensi sikap kepemimpinan.
Dalam jangka panjang, organisasi yang menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi justru lebih tangguh. Konflik lebih mudah diselesaikan karena ada kepercayaan. Perubahan lebih mudah diterima karena ada rasa aman. Kinerja pun meningkat bukan karena tekanan, tetapi karena kesadaran bersama untuk berkontribusi. Ini bukan idealisme kosong, melainkan realitas yang berulang kali terlihat dalam organisasi yang sehat secara budaya.
Pada akhirnya, tempat kerja di Indonesia bukan sekadar ruang untuk mengejar target dan menyelesaikan laporan. Ia adalah ruang sosial tempat manusia menghabiskan sebagian besar hidupnya. Di sana, orang ingin merasa dihargai, dilihat, dan dianggap berarti. Ketika organisasi mampu menghadirkan pengalaman itu, bekerja tidak lagi sekadar rutinitas, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang bermakna.
Karena manusia, pada dasarnya, akan bekerja dengan lebih utuh ketika ia diperlakukan sebagai manusia.
-SCU & MRP-





