Ada keyakinan yang hampir selalu diajarkan sejak awal berbisnis, ambil keputusan setelah datanya lengkap.
Kedengarannya masuk akal. Bahkan terasa dewasa. Seolah keputusan yang baik adalah keputusan yang menunggu semua angka rapi, semua risiko terpetakan, semua kemungkinan dihitung. Masalahnya, dalam praktik, data hampir tidak pernah benar-benar lengkap. Dan justru di situlah banyak keputusan besar terjebak.
. . .
Di meja rapat, data sering terlihat meyakinkan. Grafik disiapkan. Proyeksi dibuat. Laporan dirapikan. Semua seolah menunjukkan bahwa keputusan ini sedang didekati dengan cara yang benar.
Namun di balik itu, sering ada sesuatu yang tertunda. Bukan karena kurang pintar membaca data, tapi karena berharap satu angka tambahan akan membuat semuanya terasa aman.
Satu validasi lagi.
Satu kepastian lagi.
Padahal yang ditunggu bukan lagi data, melainkan rasa tenang.
. . .
Banyak pemilik bisnis tidak menyadari bahwa data sering digunakan bukan untuk mengambil keputusan, tetapi untuk menunda keputusan. Selama proses pengumpulan data masih berlangsung, tidak perlu memilih. Tidak perlu menanggung konsekuensi. Tidak perlu bertanggung jawab penuh pada arah.
Semua terasa produktif, padahal sebenarnya sedang berputar di tempat.
Keputusan besar hampir selalu diambil dalam kondisi tidak ideal. Pasar belum sepenuhnya jelas. Tim belum sepenuhnya siap. Risiko belum sepenuhnya bisa dipetakan. Jika menunggu semuanya lengkap, keputusan itu tidak pernah datang. Yang datang justru kelelahan mental, karena terlalu lama berdiri di antara dua kemungkinan.
. . .
Di banyak bisnis yang akhirnya stagnan, bukan karena pemiliknya gegabah.
Justru sebaliknya terlalu hati-hati.
Mereka membaca terlalu banyak sinyal, tapi ragu mempercayai penilaiannya sendiri. Mereka mengumpulkan data terus-menerus, tapi kehilangan keberanian untuk mengatakan, “cukup, ini arah yang akan diambil.”
Padahal data tidak pernah diciptakan untuk menggantikan penilaian manusia.
Ia hanya alat bantu, bukan penentu.
. . .
Ada jenis kejelasan yang tidak muncul dari spreadsheet. Ia muncul dari pengalaman, dari intuisi yang terasah, dari keberanian mengakui bahwa ketidakpastian adalah bagian dari permainan. Pemilik bisnis yang matang bukan mereka yang selalu menunggu kepastian, tetapi mereka yang sadar kapan ketidaklengkapan data masih bisa ditoleransi. Bukan karena nekat, tetapi karena memahami konteks.
Menariknya, banyak keputusan yang terlihat “cerdas” di belakang, sebenarnya terasa ragu di depan. Dan banyak keputusan yang terasa berat saat diambil, justru menjadi fondasi paling kuat setelah dijalani. Bukan karena datanya sempurna. Tetapi karena pemilik bisnisnya hadir penuh saat memutuskan.
Di titik tertentu, pertanyaannya bergeser. Bukan lagi, “apakah datanya sudah lengkap?” melainkan, “apakah saya sudah cukup jujur pada apa yang sebenarnya saya tahu?”
Karena sering kali, yang kurang bukan informasi. Melainkan keberanian untuk berdiri di balik keputusan itu sendiri.
. . .
Data tetap penting.
Ia membantu melihat pola, mengurangi bias, dan menghindari kebutaan yang tidak perlu. Namun keputusan besar tidak lahir dari data yang lengkap. Ia lahir dari kejernihan berpikir di tengah data yang tidak pernah sempurna.
Dan kejernihan itu hanya muncul ketika pemilik bisnis berhenti menunggu rasa aman, lalu mulai mengambil tanggung jawab penuh atas arah yang dipilih.
-SCU & MRP-





