Di dunia bisnis, banyak pemilik usaha terjebak dalam kesibukan operasional sehari-hari. Mereka fokus pada penjualan, mengejar pelanggan, hingga menjaga produksi tetap berjalan. Namun di balik semua aktivitas itu, ada dua fungsi manajemen yang paling sering terlupakan kontrol dan evaluasi.
Padahal, seperti pepatah manajemen, “Apa yang tidak diukur, tidak bisa dikelola. Apa yang tidak dievaluasi, tidak bisa diperbaiki.” Ungkapan ini sederhana, tetapi dampaknya nyata. Banyak bisnis yang potensial justru runtuh bukan karena produk yang buruk atau pasar yang tidak ramah, melainkan karena lemahnya pengendalian dan absennya evaluasi.
Pertanyaannya, mengapa kontrol dan evaluasi begitu sering diabaikan?
Budaya Bisnis yang Terjebak pada “Jalan Saja”
Dalam banyak kasus, pelaku usaha terutama UMKM berjalan dengan prinsip asal jalan. Selama ada pelanggan, selama ada uang masuk, dianggap sudah cukup. Angka-angka keuangan tidak dicatat, laporan tidak dibuat, dan hasil kerja tidak pernah ditinjau kembali.
Budaya ini lahir dari dua hal. Pertama, keyakinan bahwa kontrol dan evaluasi hanya cocok untuk perusahaan besar, bukan usaha kecil. Kedua, rasa puas terlalu cepat. Selama bisnis tampak berjalan, tidak ada dorongan untuk memeriksa apakah semuanya benar-benar sehat.
Akibatnya, banyak pemilik usaha tidak pernah tahu apakah produk mereka benar-benar untung, apakah biaya operasional terlalu besar, atau apakah strategi pemasaran efektif. Semua dibiarkan berjalan di atas perkiraan, bukan pada data.
Mengukur vs Mengira-ngira
Ada perbedaan mendasar antara mengukur dan mengira-ngira. Mengira-ngira hanya berdasarkan perasaan sepertinya penjualan bulan ini bagus, sepertinya pelanggan puas, sepertinya keuntungan cukup. Sedangkan mengukur berarti menempatkan angka nyata berapa unit terjual, berapa persen repeat order, berapa margin keuntungan setelah biaya operasional.
Banyak bisnis runtuh karena terlalu lama mengandalkan perasaan. Contohnya, sebuah kafe kecil yang selalu ramai pengunjung ternyata akhirnya tutup karena kas terus minus. Pemiliknya baru sadar belakangan harga jual tidak sebanding dengan biaya operasional.
Tanpa kontrol, kafe tersebut hidup dalam ilusi kesuksesan. Tanpa evaluasi, ia tidak pernah menemukan kesalahan harga yang sebenarnya bisa diperbaiki sejak awal.
Kontrol Mengelola, Evaluasi Memperbaiki
Dalam manajemen, kontrol adalah langkah pertama untuk memastikan rencana berjalan sesuai jalur. Seperti pilot yang tidak bisa menerbangkan pesawat tanpa panel instrumen, seorang pemilik usaha tidak bisa mengelola bisnis tanpa data yang terukur.
Namun, kontrol saja tidak cukup. Angka-angka yang terkumpul harus dievaluasi. Data perlu dibaca ulang, ditafsirkan, lalu dijadikan dasar untuk memperbaiki keputusan. Tanpa evaluasi, kontrol hanya berhenti sebagai catatan mati.
Pemimpin bisnis yang piawai akan menjadikan evaluasi sebagai ritual penting. Ia tidak hanya melihat berapa hasil yang dicapai, tetapi juga bertanya mengapa hasil itu muncul, dan bagaimana cara memperbaikinya.
Baca Juga :
Pak Anwar dan Makna Tanggung Jawab Sejati
Konsekuensi bagi Kepemimpinan
Kontrol dan evaluasi bukan sekadar fungsi manajemen, melainkan juga cermin kepemimpinan. Pemimpin yang tidak terbiasa mengukur akan memimpin dengan asumsi. Ia mengambil keputusan hanya berdasarkan perasaan atau kebiasaan lama.
Sebaliknya, pemimpin yang membiasakan diri dengan kontrol dan evaluasi akan lebih tenang dan terarah. Ia tahu apa yang bekerja, apa yang tidak, dan apa yang perlu disesuaikan. Ia tidak terjebak pada ilusi keberhasilan sesaat, melainkan fokus pada perbaikan berkelanjutan.
Dalam dunia bisnis yang penuh ketidakpastian, kepemimpinan seperti ini yang membuat organisasi bertahan. Karena pada akhirnya, bukan siapa yang berlari paling cepat, melainkan siapa yang paling konsisten memperbaiki langkahnya.
Bisnis yang tidak dikontrol hanya akan berjalan, tapi bisnis yang dievaluasi akan berkembang.
-SCU & MRP-





