Sore itu, hujan turun pelan di Jember. Aroma kopi hitam memenuhi udara di warung kecil langganan Kadir. Meja mereka dipenuhi gelas kopi panas, piring gorengan, dan tumpukan kertas catatan.
Kadir memandang timnya satu per satu. “Teman-teman,” ujarnya perlahan, “bisnis kita ini bukan cuma jual barang. Kita ini membantu orang hidup lebih mudah.”
Awalnya, hening. Hanya terdengar bunyi sendok mengaduk kopi. Namun, beberapa detik kemudian, senyum mulai muncul.
Seorang staf menimpali, “Kalau begitu, kita bisa tambah layanan antar biar pelanggan nggak repot.” Yang lain berkata, “Kemasan kita bisa dibuat lebih praktis, biar nggak makan tempat.”
Hari itu, tanpa disadari, percakapan santai di warung kopi menjadi titik balik. Mereka pulang dengan semangat berbeda karena semua mulai paham ke mana mereka menuju.
Kadir selalu mengingat satu prinsip ” Visi yang tidak terucap sama seperti peta yang disimpan di laci tak pernah menuntun perjalanan “.
Visi yang Baik Lahir dari Niat Tulus
Visi bukan sekadar rangkaian kata manis di slide presentasi. Ia adalah kompas yang mengarahkan setiap langkah tim. Kadir tahu, menyampaikan visi harus lahir dari niat tulus, bukan sekadar “tugas” pemimpin.
- Memikirkan kepentingan bersama bukan ego pribadi atau ambisi yang mengabaikan tim.
- Memilih kata-kata yang membangun mengundang orang untuk ikut berjuang, bukan membuat mereka merasa terpaksa.
- Memilih momen yang tepat kadang, warung kopi lebih efektif daripada ruang rapat mewah.
Visi yang lahir dari hati akan lebih mudah masuk ke hati orang lain.
Visi yang Benar Berdiri di Atas Realitas
Banyak pemimpin terjebak dalam “mimpi indah” yang terlalu jauh dari kemampuan tim. Kadir tidak ingin terjebak di sana. Visi yang benar, menurutnya, harus:
- Selaras dengan kekuatan inti dan nilai tim.
- Berdasarkan data dan peluang nyata.
- Disertai langkah-langkah realistis.
Ia pernah mendengar cerita startup logistik yang mendeklarasikan visi “Menjadi pengiriman terbesar di Asia dalam 2 tahun” padahal modal pas-pasan, strategi belum matang. Alih-alih memotivasi, visi itu justru jadi bahan candaan internal.
Kadir belajar, visi tanpa pijakan pada realitas hanya akan memicu kekecewaan.
Visi yang Jelas Mudah Diingat dan Dijalankan
Visi yang terlalu panjang, penuh jargon, dan membingungkan akan hilang begitu saja dari pikiran tim. Kadir memilih satu kalimat yang sederhana:
“Kita membantu orang hidup lebih mudah.”
Kalimat ini ia ulang di setiap kesempatan dari rapat, obrolan santai, hingga pesan WhatsApp. Akibatnya, semua anggota tim tidak hanya hafal, tapi juga tahu bagaimana menerjemahkannya dalam pekerjaan sehari-hari.
Ulangi visi sampai menjadi bagian dari budaya, bukan sekadar kalimat hafalan.
Ketika Visi Tersampaikan dengan Baik
Ketika visi disampaikan dengan baik, benar, dan jelas, dampaknya terasa di seluruh organisasi:
1. Keselarasan arah, semua bergerak ke tujuan yang sama.
2. Energi kolektif, setiap anggota tim termotivasi karena tahu “mengapa” mereka bekerja.
3. Ketahanan saat krisis, visi menjadi kompas ketika badai datang.
Bagi Kadir, visi bukan cuma apa yang ingin dicapai, tapi juga kenapa mereka berjuang.
Kadir menatap pembaca dengan senyum tipis, lalu bertanya “Kalau saya tanya tim Anda, ‘Apa visi kita?’, apakah mereka akan menjawab hal yang sama, dengan semangat yang sama?”
Jika jawabannya tidak, mungkin visi Anda masih terkunci di laci.
Dan seperti peta yang tak pernah dibuka, ia tak akan menuntun perjalanan siapa pun.
Visi adalah cahaya di kejauhan. Tetapi cahaya itu hanya bermanfaat jika Anda menunjukkannya kepada semua orang, menjelaskan arahnya, dan mengajak mereka berjalan bersama.
-SCU & MRP-





