“Discipline can fix 80% of your problems.”
Kalimat itu bukan slogan motivasi. Ia adalah cermin yang kalau kita berani menatapnya, akan memperlihatkan bahwa sumber kekacauan sering kali bukan ketidaktahuan, bukan kekurangan dana, bukan karena tim belum paham strategi… tetapi karena kita sendiri belum disiplin mengeksekusi apa yang sebenarnya sudah kita tahu.
Kadir, dan Daftar Masalah yang Terlalu Umum
Kisah ini dimulai dari warung makan milik Kadir. Bukan warung kecil tapi juga belum bisa disebut restoran mapan. Dalam beberapa tahun terakhir, usahanya berkembang cukup baik. Ia punya 17 karyawan, 2 cabang, dan omzet bulanan yang cukup stabil. Tapi Kadir datang ke sesi mentoring dengan nada frustasi.
“Masalah saya tuh banyak. Laporan keuangan selalu telat. Karyawan sering salah ambil pesanan. Stok bahan baku sering kosong. Komplain pelanggan makin banyak. Dan saya sendiri makin gak punya waktu.”
Ia ingin solusi. Strategi baru. Sistem digital. Aplikasi manajemen. Bahkan sempat tanya apakah perlu rekrut manajer operasional.
Tapi kami tidak mulai dari sana.
Kami mulai dari pertanyaan sederhana:
“Kapan terakhir kali SOP Anda dijalankan utuh, sesuai prosedur harian?”
Kadir diam. Lalu mengakui, semua prosedur dan sistem yang dia buat, tidak dijalankan secara konsisten.
- Laporan keuangan? Kadang dibuat, kadang tidak.
- Briefing harian? Terakhir dilakukan dua bulan lalu.
- Jadwal belanja bahan baku? Sering diganti karena lupa.
Dan begitu daftar itu ditelusuri lebih dalam, ternyata 80% masalah Kadir bukan karena sistem tidak ada, tapi karena sistem tidak dijalankan dengan disiplin.
Disiplin Tidak Menarik, Tapi Menentukan
Dalam dunia bisnis kecil dan menengah, “disiplin” bukan kata seksi. Ia tidak bisa dijual sebagai kursus. Tidak jadi headline yang menggoda. Tapi justru karena itu, ia sering diremehkan dan akhirnya dilupakan.
Padahal jika dipahami dengan benar, disiplin bukan hanya soal jam bangun pagi. Bukan sekadar kerja keras. Disiplin adalah “Konsistensi untuk melakukan yang penting, meskipun sedang tidak mood.”
Dan dalam konteks bisnis, yang penting itu banyak menjalankan SOP, menutup kas harian, mengawasi kualitas produk, melakukan evaluasi, follow up pelanggan, menjaga relasi dengan tim, membuat laporan, merespons komplain… semuanya butuh disiplin, bukan hanya semangat.
Tanpa disiplin, strategi sehebat apapun akan runtuh.
Kenapa Disiplin Bisa Menyelesaikan 80% Masalah?
Mari kita bedah logikanya.
1. Disiplin Mengaktifkan Sistem
Banyak bisnis punya SOP, punya template kerja, punya software canggih tapi hasilnya tetap kacau karena tidak ada konsistensi pelaksanaan.
- Sistem tidak jalan bukan karena salah.
- Sistem tidak jalan karena tidak didisiplinkan.
2. Disiplin Membentuk Budaya
Pemimpin yang tidak disiplin melahirkan tim yang permisif. Sekali dua kali terlambat, tidak jadi masalah. Sekali dua kali tidak buat laporan, dimaklumi. Lama-lama, tim belajar bahwa tidak disiplin pun tetap aman.
Dan budaya kerja seperti ini menghancurkan bisnis dari dalam.
3. Disiplin Menjaga Prioritas
Saat bisnis makin ramai, kita mudah tergoda mengejar hal-hal yang kelihatan penting padahal bukan yang paling mendesak. Disiplin menjaga kita untuk tetap fokus menjalankan hal-hal penting sebelum sibuk menyelesaikan hal-hal besar.
Contohnya?
- Disiplin menjalankan daily briefing itu lebih penting daripada bikin iklan viral.
- Disiplin menyapa pelanggan lama itu lebih berdampak daripada bikin promo baru tiap minggu.
4. Disiplin Tidak Harus Keras, Tapi Harus Konsisten
Disiplin bukan berarti kaku. Tidak harus bangun jam 4 pagi. Tidak perlu to-do list sepanjang pulau.
Dalam konteks UMKM dan bisnis berkembang, disiplin bisa dimulai dari:
- Menutup kas harian tanpa ditunda.
- Datang 15 menit lebih awal dari karyawan.
- Menjalankan evaluasi mingguan, walau hanya 30 menit.
- Membuat laporan penjualan mingguan yang sederhana tapi rutin.
- Menindaklanjuti komplain pelanggan dalam 24 jam.
Bukan besar atau rumitnya yang penting. Tapi seberapa konsisten dilakukan.
5. Tantangan Terbesar Ketika Tidak Ada yang Mengawasi
Disiplin di dunia kerja korporat lebih mudah karena ada atasan, sistem pengawasan, dan ancaman penalti. Tapi di dunia usaha sendiri, siapa yang mengawasi pemilik usaha?
Tidak ada.
Dan inilah ujian sejati seorang pelaku bisnis.
Disiplin sejati justru teruji saat tidak ada yang melihat. Saat tidak ada yang menegur kalau laporan telat. Saat tidak ada yang menuntut bila evaluasi tidak dilakukan. Tapi ketika pemilik usaha tetap menunaikan tugasnya itulah pilar bisnis mulai menguat.
Jati diri seorang pemilik bisnis ditentukan oleh integritas menjalankan yang rutin, bukan oleh teriakan untuk inovasi.
Jalan Sunyi yang Efektif
Banyak masalah bukan karena kita tidak tahu jawabannya. Tapi karena kita tidak disiplin menjalankan jawabannya.
Di dunia yang sibuk menjual ilusi “jalan pintas”, disiplin adalah jalan sunyi yang sering tidak dilirik. Tapi justru di sanalah kekuatan sejati muncul.
Ketika disiplin hadir, sistem berjalan. Ketika sistem berjalan, masalah mereda. Dan ketika masalah mereda, pertumbuhan bisa dimulai.
Bisnis Anda mungkin tidak butuh mentor baru. Mungkin juga tidak butuh aplikasi baru.
Coba tanyakan dulu apakah yang ada sekarang sudah dijalankan dengan disiplin?
Karena bisa jadi, dari 10 masalah besar yang Anda keluhkan 8 diantaranya bisa selesai dengan satu kunci konsistensi melakukan hal yang penting, setiap hari, meskipun tidak ada yang menonton.
-SCU & MRP-





