• Masuk
Piawai Bisnis
Advertisement
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Piawai Bisnis
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Beranda Kisah Kadir

Omzet Naik, Tapi Kompetitor Sudah Jauh di Depan

Kisah Kadir dan Kesalahan Umum Menilai Kemajuan Bisnis

Piawai Bisnis oleh Piawai Bisnis
08/08/2025
pada Kisah Kadir
A A
0
omzet
0
Dibagikan
17
Dilihat

Kadir punya kabar gembira.
Bisnis kulinernya menutup kuartal ini dengan pencapaian yang di atas kertas sangat membanggakan. Omzet naik 120% dari tahun lalu, margin tetap terjaga di atas 25%, laba bersih tumbuh signifikan, dan cash flow bulanan untuk pertama kalinya positif tiga bulan berturut-turut. 

Ia tersenyum lebar di depan tim. “Selamat! Kita berhasil!” serunya dalam rapat evaluasi. 

Sorak-sorai pecah. Beberapa bahkan mengusulkan perayaan kecil. Tim merasa inilah titik kebangkitan mereka setelah dua tahun terseok menghadapi tekanan ekonomi. 

Namun dua hari kemudian, senyuman itu menghilang. 

Kadir bertemu Joko, sahabat lamanya yang juga berkecimpung di dunia kuliner. Mereka sama-sama memulai usaha dari nol, bahkan sempat saling bertukar vendor dan tips dapur di awal-awal membangun bisnis. 

“Bisnismu lagi bagus ya, Kad?” tanya Joko sambil menyesap kopi.

“Banget! Naik 120%. Omzet bulanan akhirnya tembus angka psikologis kita.” 

“Hebat! Aku juga naik 120%,” balas Joko santai. “Lumayan lah, sekarang udah nyentuh 900 juta sebulan.” 

Kadir tercekat. 

Angka itu hampir dua kali lipat dari pencapaian timnya. 

. . . 

Ketika Angka Bisa Menipu Posisi 

Kadir pulang dengan kepala penuh tanya. Bagaimana bisa ia merasa sedang menang, padahal kompetitor sudah melesat dua kali lebih cepat? Malam itu ia menatap semua laporan yang selama ini membuatnya bangga. 

Grafik naik. Persentase tumbuh. Testimoni pelanggan bertambah. Tapi satu hal terlewat ia tidak pernah benar-benar membandingkan dirinya dengan peta pasar yang nyata.

Kadir terlalu fokus pada angka internal angka yang tumbuh dari basis rendah, sehingga tampak spektakuler. Padahal pertumbuhan omzet 120% dari 200 juta tidak bisa disamakan dengan 120% dari 500 juta.

Pertumbuhan absolut bisa membanggakan. Tapi tanpa konteks, angka hanya akan memberi rasa puas semu. Seperti mendaki bukit dan bersorak karena merasa sudah sampai puncak… padahal gunung sebenarnya masih jauh di depan.

. . . 

Dua Kesalahan yang Sering Terjadi di Bisnis Kecil 

Kisah Kadir bukan kisah langka. Banyak pelaku usaha terutama UMKM yang mulai naik kelas terjebak dalam dua pola pikir yang sama:

1. Terlalu Fokus pada Target Internal

Target itu penting. Tapi kalau hanya diambil dari kemampuan internal, bukan dari tekanan dan laju pasar, maka target itu bisa jadi penghibur, bukan pendorong. Kadir memasang target naik 100% karena merasa itu menantang. Padahal kompetitornya melaju dua-tiga kali lebih cepat. Target yang salah bisa membuat bisnis tertidur dalam kebanggaan semu. 

2. Mengabaikan Benchmark Kompetitor

Kadir puas melihat angka naik. Tapi ia tak pernah mengecek posisi bisnisnya dalam konteks industri kuliner. Padahal dalam dunia bisnis, kecepatan tumbuh hanya relevan jika dibandingkan dengan kecepatan orang lain. Kalau kompetitor tumbuh lebih cepat, maka meskipun kita naik, kita tetap tertinggal. 

. . . 

Dari Pertumbuhan ke Posisi Mengubah Cara Pandang 

Setelah merenung, Kadir mulai menyusun ulang cara pandang terhadap kinerja bisnis. 

Ia belajar membedakan antara: 

  • Pertumbuhan absolut (berapa persen kita tumbuh) dan pertumbuhan relatif (berapa persen dibandingkan pesaing) 
  • Ia juga mulai memperkenalkan metrik baru dalam dashboard bulanan mereka: 
    • Market Positioning – Di mana posisi bisnisnya dalam kategori yang sama? 
    • Relative Growth – Apakah laju bisnisnya melebihi rata-rata pasar? 
    • Speed of Innovation – Seberapa cepat tim merespons tren? 
    • Customer Perception Index – Bagaimana persepsi pelanggan dibandingkan bisnis lain? 

Kadir menyadari: 

Selama ini ia mengukur kemajuan seperti pelari yang berlari sendirian.

Tak sadar bahwa lomba ini adalah lomba ramai-ramai. Dan banyak pelari lain sudah melesat lebih dulu, dengan persiapan lebih matang dan strategi lebih tajam.

. . . 

Jangan Hanya Lihat Target, Lihat Peta 

Tidak ada yang salah dengan pertumbuhan. Tapi pertumbuhan tanpa konteks bisa menyesatkan. 

Kadir belajar pelan-pelan,  Bisnis bukan hanya soal menang dari diri sendiri kemarin. Tapi tentang relevansi hari ini, dan kesiapan menyambut pasar yang bergerak lebih cepat setiap hari. 

Omzet boleh naik. Tapi kalau kompetitor sudah jauh di depan, maka bukan saatnya merayakan. Tapi saatnya membenahi peta dan mempercepat langkah.  

. . . 

Refleksi Praktis :  

  • Evaluasi target Anda, menantang atau sekadar aman? 
  • Lakukan benchmarking minimal kuartalan terhadap kompetitor. 
  • Jangan hanya bangga dengan angka naik. Tanyakan: “Naik dibanding siapa?” 
  • Bangun metrik yang mencerminkan posisi Anda di pasar. 
  • Dan yang paling penting Jangan puas hanya karena grafik naik. Pastikan Anda tidak tertinggal. 

 

-SCU&MRP-

Tags: #strategi
Sebelumnya

Berhenti Alasan, Mulai Cari Jalan

Selanjutnya

Obat Murah untuk 80% Masalah Bisnis Anda, Disiplin!

Piawai Bisnis

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Terkait Pos

Cepat Ramai, Cepat Hilang

cepat ramai
oleh Piawai Bisnis
21/09/2025
0

Di suatu pagi yang biasanya penuh semangat, Kadir justru termenung di ruang kerjanya. Angka-angka penjualan bulan itu terpampang jelas di...

SelengkapnyaDetails

Pak Anwar dan Makna Tanggung Jawab Sejati

tanggung jawab
oleh Piawai Bisnis
12/09/2025
0

Di ruang rapat sederhana yang hari itu disulap menjadi aula kecil, seluruh karyawan berkumpul. Suasana hangat terasa saat Kadir, direktur...

SelengkapnyaDetails

Saya Tidak Pernah Memecat Karyawan.

memecat
oleh Piawai Bisnis
28/08/2025
0

Malam itu, Kadir menerima undangan istimewa. RT sebelah sedang merayakan HUT Republik Indonesia ke-80. Tidak seperti RT kebanyakan, komplek ini...

SelengkapnyaDetails

Clarity is kindness.

clarity
oleh Piawai Bisnis
28/08/2025
0

Seandainya orang bisa membaca pikiran, Kadir mungkin tak perlu repot-repot menjelaskan panjang lebar. Tak perlu memberi arahan detail. Tak perlu...

SelengkapnyaDetails

Senyum Tulus, Layanan Berkelas: Pelajaran Bisnis dari BCA

senyum
oleh Piawai Bisnis
26/08/2025
0

Suatu pagi, Abdul kembali mengantar anaknya ke cabang BCA. Ini sudah yang kedua kalinya dalam sebulan. Aktivasi mobile banking anaknya...

SelengkapnyaDetails

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Kategori

  • Analisis (9)
  • Insight (71)
  • Kisah Kadir (23)
  • Tips Praktis (8)

Arsip

  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store

© 2025 Piawai Bisnis - Platform Belajar Manajemen Bisnis.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?