Kadir punya kabar gembira.
Bisnis kulinernya menutup kuartal ini dengan pencapaian yang di atas kertas sangat membanggakan. Omzet naik 120% dari tahun lalu, margin tetap terjaga di atas 25%, laba bersih tumbuh signifikan, dan cash flow bulanan untuk pertama kalinya positif tiga bulan berturut-turut.
Ia tersenyum lebar di depan tim. “Selamat! Kita berhasil!” serunya dalam rapat evaluasi.
Sorak-sorai pecah. Beberapa bahkan mengusulkan perayaan kecil. Tim merasa inilah titik kebangkitan mereka setelah dua tahun terseok menghadapi tekanan ekonomi.
Namun dua hari kemudian, senyuman itu menghilang.
Kadir bertemu Joko, sahabat lamanya yang juga berkecimpung di dunia kuliner. Mereka sama-sama memulai usaha dari nol, bahkan sempat saling bertukar vendor dan tips dapur di awal-awal membangun bisnis.
“Bisnismu lagi bagus ya, Kad?” tanya Joko sambil menyesap kopi.
“Banget! Naik 120%. Omzet bulanan akhirnya tembus angka psikologis kita.”
“Hebat! Aku juga naik 120%,” balas Joko santai. “Lumayan lah, sekarang udah nyentuh 900 juta sebulan.”
Kadir tercekat.
Angka itu hampir dua kali lipat dari pencapaian timnya.
. . .
Ketika Angka Bisa Menipu Posisi
Kadir pulang dengan kepala penuh tanya. Bagaimana bisa ia merasa sedang menang, padahal kompetitor sudah melesat dua kali lebih cepat? Malam itu ia menatap semua laporan yang selama ini membuatnya bangga.
Grafik naik. Persentase tumbuh. Testimoni pelanggan bertambah. Tapi satu hal terlewat ia tidak pernah benar-benar membandingkan dirinya dengan peta pasar yang nyata.
Kadir terlalu fokus pada angka internal angka yang tumbuh dari basis rendah, sehingga tampak spektakuler. Padahal pertumbuhan omzet 120% dari 200 juta tidak bisa disamakan dengan 120% dari 500 juta.
Pertumbuhan absolut bisa membanggakan. Tapi tanpa konteks, angka hanya akan memberi rasa puas semu. Seperti mendaki bukit dan bersorak karena merasa sudah sampai puncak… padahal gunung sebenarnya masih jauh di depan.
. . .
Dua Kesalahan yang Sering Terjadi di Bisnis Kecil
Kisah Kadir bukan kisah langka. Banyak pelaku usaha terutama UMKM yang mulai naik kelas terjebak dalam dua pola pikir yang sama:
1. Terlalu Fokus pada Target Internal
Target itu penting. Tapi kalau hanya diambil dari kemampuan internal, bukan dari tekanan dan laju pasar, maka target itu bisa jadi penghibur, bukan pendorong. Kadir memasang target naik 100% karena merasa itu menantang. Padahal kompetitornya melaju dua-tiga kali lebih cepat. Target yang salah bisa membuat bisnis tertidur dalam kebanggaan semu.
2. Mengabaikan Benchmark Kompetitor
Kadir puas melihat angka naik. Tapi ia tak pernah mengecek posisi bisnisnya dalam konteks industri kuliner. Padahal dalam dunia bisnis, kecepatan tumbuh hanya relevan jika dibandingkan dengan kecepatan orang lain. Kalau kompetitor tumbuh lebih cepat, maka meskipun kita naik, kita tetap tertinggal.
. . .
Dari Pertumbuhan ke Posisi Mengubah Cara Pandang
Setelah merenung, Kadir mulai menyusun ulang cara pandang terhadap kinerja bisnis.
Ia belajar membedakan antara:
- Pertumbuhan absolut (berapa persen kita tumbuh) dan pertumbuhan relatif (berapa persen dibandingkan pesaing)
- Ia juga mulai memperkenalkan metrik baru dalam dashboard bulanan mereka:
- Market Positioning – Di mana posisi bisnisnya dalam kategori yang sama?
- Relative Growth – Apakah laju bisnisnya melebihi rata-rata pasar?
- Speed of Innovation – Seberapa cepat tim merespons tren?
- Customer Perception Index – Bagaimana persepsi pelanggan dibandingkan bisnis lain?
Kadir menyadari:
Selama ini ia mengukur kemajuan seperti pelari yang berlari sendirian.
Tak sadar bahwa lomba ini adalah lomba ramai-ramai. Dan banyak pelari lain sudah melesat lebih dulu, dengan persiapan lebih matang dan strategi lebih tajam.
. . .
Jangan Hanya Lihat Target, Lihat Peta
Tidak ada yang salah dengan pertumbuhan. Tapi pertumbuhan tanpa konteks bisa menyesatkan.
Kadir belajar pelan-pelan, Bisnis bukan hanya soal menang dari diri sendiri kemarin. Tapi tentang relevansi hari ini, dan kesiapan menyambut pasar yang bergerak lebih cepat setiap hari.
Omzet boleh naik. Tapi kalau kompetitor sudah jauh di depan, maka bukan saatnya merayakan. Tapi saatnya membenahi peta dan mempercepat langkah.
. . .
Refleksi Praktis :
- Evaluasi target Anda, menantang atau sekadar aman?
- Lakukan benchmarking minimal kuartalan terhadap kompetitor.
- Jangan hanya bangga dengan angka naik. Tanyakan: “Naik dibanding siapa?”
- Bangun metrik yang mencerminkan posisi Anda di pasar.
- Dan yang paling penting Jangan puas hanya karena grafik naik. Pastikan Anda tidak tertinggal.
-SCU&MRP-





