Di ruang rapat sederhana yang hari itu disulap menjadi aula kecil, seluruh karyawan berkumpul. Suasana hangat terasa saat Kadir, direktur perusahaan, berdiri di podium. Ia akan memberikan penghargaan karyawan terbaik tahun ini sebuah momen yang biasanya identik dengan posisi manajer atau staf berprestasi di lini produksi.
Namun sore itu, nama yang dipanggil membuat banyak orang tertegun.
“Penghargaan karyawan terbaik tahun ini diberikan kepada… Pak Anwar.”
Seorang pria sepuh dengan rambut yang sudah memutih perlahan berdiri dari kursinya. Tepuk tangan riuh mengiringinya melangkah ke depan. Ia adalah office boy yang selama sepuluh tahun terakhir mengabdi di perusahaan tersebut.
Lebih dari Sekadar Office Boy
Bagi sebagian orang, posisi OB mungkin terlihat sepele. Sekadar memastikan ruangan bersih, mengantar minuman, atau membereskan meja setelah rapat. Pekerjaan yang sering luput dari perhatian, bahkan dianggap tidak terlalu penting.
Tapi tidak bagi Pak Anwar. Setiap hari, ia datang paling pagi bahkan sebelum sebagian besar karyawan menyalakan mesin kendaraan mereka. Ia menyapu lantai dengan telaten, menata kursi rapat satu per satu, memastikan aroma ruangan segar, dan meja kerja siap menyambut aktivitas. Semua dilakukan dengan ritme yang sama, konsisten, tanpa pernah terdengar keluhan.
Yang membuatnya berbeda bukan sekadar kedisiplinan. Ada sesuatu yang lebih dalam. Rupanya, di masa mudanya Pak Anwar pernah meniti karier di sebuah perusahaan multinasional ternama di posisi manajemen tengah. Ia mengenal disiplin ala korporasi global standar tinggi, etos kerja keras, dan profesionalisme tanpa kompromi. Bekal itu menempel kuat dalam dirinya, dan tidak pernah pudar meski kini ia “hanya” seorang OB di perusahaan Kadir.
Pak Anwar tidak melihat pekerjaannya sebagai pekerjaan kecil. Baginya, setiap peran adalah amanah. Membersihkan ruangan sama berharganya dengan menyusun strategi di ruang direksi, selama dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Ia percaya, integritas bukan diukur dari besar kecilnya jabatan, melainkan dari seberapa tulus seseorang memberikan yang terbaik di posisi apa pun.
Dan di situlah keistimewaannya. Dalam kesederhanaan, ia menyelipkan nilai yang dalam bahwa pekerjaan, sekecil apa pun terlihatnya, bisa menjadi bentuk pengabdian ketika dilakukan dengan hati.
Dedikasi yang Menjadi Teladan
Dalam pidatonya, Kadir menahan haru. Ia mengatakan bahwa penghargaan ini bukan sekadar simbol, melainkan pengakuan terhadap dedikasi seorang insan yang mengajarkan arti bekerja dengan hati.
“Pak Anwar menunjukkan bahwa dedikasi tidak diukur dari pangkat, tetapi dari konsistensi memberi yang terbaik,” ujar Kadir.
Dedikasi itu terlihat dalam detail kecil cara Pak Anwar memastikan ruangan selalu wangi sebelum tamu datang, cara ia menyapa setiap orang dengan ramah, hingga caranya sigap membantu meski tidak pernah diminta.
Tanggung Jawab yang Tidak Pernah Luntur
Bagi Pak Anwar, bekerja dengan serius adalah bentuk tanggung jawab. Tanggung jawab pada pekerjaannya, pada rekan-rekannya, dan pada dirinya sendiri. Ia tidak pernah mau sekadar menggugurkan kewajiban.
“Kalau kita sudah memilih bekerja di sini, maka tanggung jawab kita adalah memastikan pekerjaan itu dilakukan dengan sungguh-sungguh,” katanya suatu kali ketika ditanya mengapa ia begitu tekun.
Kata-kata sederhana, tetapi menjadi tamparan halus bagi banyak orang muda yang sering mengeluh dengan alasan beban kerja atau keterbatasan fasilitas.
Baca Juga :
Cara Membaca adalah Cara Memimpin
Integritas yang Menjaga Harga Diri
Meski masa lalunya pernah diisi dengan posisi terhormat di perusahaan besar, Pak Anwar tidak minder dengan pekerjaannya sekarang. Ia tidak merasa “jatuh” karena menjadi OB. Justru, ia melihat pekerjaannya saat ini sebagai wadah baru untuk menjaga integritas.
Integritas membuatnya tetap berpegang pada prinsip apa pun pekerjaannya, ia harus melakukannya dengan sebaik mungkin. Karena itulah, rekan-rekannya tidak pernah melihatnya setengah hati.
Sebuah Cermin untuk Semua
Ketika Pak Anwar menerima penghargaan itu, banyak yang meneteskan air mata. Mereka menyadari, penghargaan ini bukan hanya milik Pak Anwar, melainkan juga cermin bagi seluruh karyawan.
Dedikasi, tanggung jawab, dan integritas bukan milik jabatan tinggi saja. Ia bisa hidup dalam diri siapa pun yang memilih bekerja dengan hati, termasuk seorang office boy yang usianya sudah senja.
Dan di hari itu, perusahaan Kadir belajar satu hal penting kehebatan organisasi bukan ditentukan oleh siapa yang duduk di kursi direksi, melainkan oleh setiap insan yang bekerja dengan tulus menjaga nilai-nilai dasar tersebut.
-SCU & MRP-





