Pengalaman sering dianggap sebagai aset terbesar seorang pemilik bisnis. Ia memberi rasa percaya diri. Memberi referensi. Memberi cerita tentang apa yang pernah berhasil dan apa yang pernah gagal.
Dan memang, tanpa pengalaman, banyak keputusan akan terasa buta. Namun ada sisi lain dari pengalaman yang jarang dibicarakan. Sisi yang lebih sunyi, dan sering kali lebih berbahaya.
Pengalaman bisa membuat seseorang terlalu cepat merasa tahu.
. . .
Di awal membangun bisnis, hampir semua keputusan diambil dengan hati-hati. Setiap masukan didengar. Setiap data dipertimbangkan. Setiap asumsi diuji. Namun setelah bertahun-tahun berjalan, perlahan sikap itu berubah.
Bukan karena pemilik bisnis menjadi arogan.
Sering kali justru karena ia pernah melewati banyak hal.
Pernah selamat dari krisis.
Pernah mengambil risiko dan berhasil.
Pernah salah, lalu bangkit kembali.
Pengalaman-pengalaman ini membentuk keyakinan internal “aku sudah pernah melihat pola ini.”
. . .
Masalahnya, dunia bisnis jarang mengulang pola dengan cara yang sama.
Pasar berubah. Konsumen bergeser. Teknologi menggeser perilaku tanpa meminta izin. Namun pengalaman lama sering kali tetap digunakan sebagai kacamata utama untuk membaca realitas baru. Bukan karena data tidak ada. Tetapi karena data dibaca untuk membenarkan pengalaman, bukan untuk menantangnya.
Bias ini bekerja dengan cara yang sangat halus.
Ketika data menunjukkan sinyal yang berbeda, pemilik bisnis tidak langsung menolaknya. Ia hanya menganggapnya belum cukup kuat. Belum cukup relevan. Belum cukup sejalan dengan “apa yang biasanya terjadi.”
Dan tanpa disadari, keputusan mulai lebih banyak digerakkan oleh ingatan masa lalu, bukan konteks saat ini.
. . .
Pengalaman yang seharusnya menjadi penopang, perlahan berubah menjadi batas. Ia membuat pemilik bisnis merasa aman di dalam pola yang sudah dikenal. Namun justru itu yang membuatnya terlambat menyadari perubahan.
Banyak bisnis tidak runtuh karena keputusan buruk. Mereka melemah karena keputusan yang terasa masuk akal berdasarkan pengalaman lama yang sudah tidak sepenuhnya relevan.
. . .
Ada perbedaan tipis antara kebijaksanaan dan kelekatan. Kebijaksanaan terbuka pada kemungkinan bahwa keadaan telah berubah. Kelekatan terus memaksakan masa lalu agar tetap terasa benar.
Dan perbedaannya jarang terlihat dari luar. Ia hanya terasa di dalam, ketika pemilik bisnis mulai lebih sering berkata, “dulu juga begini, dan akhirnya aman.”
Ironisnya, semakin tinggi jam terbang seseorang, semakin besar potensi bias ini bekerja. Bukan karena ia kurang pintar. Justru karena ia terlalu akrab dengan rasa berhasil. Padahal pengalaman terbaik seharusnya tidak melahirkan kepastian, melainkan kerendahan hati untuk bertanya ulang.
. . .
Di titik ini, pertanyaan yang lebih jujur mulai diperlukan.
Bukan, “apa yang pernah berhasil?” melainkan, “apakah kondisi hari ini masih sama dengan saat itu?”
Bukan, “pengalaman saya berkata apa?”
melainkan, apa yang mungkin saya lewatkan karena terlalu yakin?”
Pertanyaan-pertanyaan ini tidak nyaman. Namun ia menjaga pengalaman tetap hidup, bukan membatu.
. . .
Pengalaman tetap berharga.
Ia memberi konteks, intuisi, dan kedalaman membaca situasi. Namun ketika pengalaman tidak lagi disandingkan dengan kesadaran bahwa dunia berubah, ia berhenti menjadi aset, dan diam-diam berubah menjadi bias.
Dan di sanalah banyak keputusan besar kehilangan ketajamannya bukan karena kurang data, tetapi karena terlalu cepat merasa sudah tahu.
-SCU & MRP-





