Malam itu, Kadir menerima undangan istimewa. RT sebelah sedang merayakan HUT Republik Indonesia ke-80. Tidak seperti RT kebanyakan, komplek ini dikenal sebagai tempat tinggal para sultan. Sebutan itu bukan tanpa alasan deretan rumah besar, mobil mewah terparkir rapi, dan yang lebih menarik, banyak pengusaha sukses tinggal di sana.
Kadir sebenarnya hanya tamu “biasa.” Ia datang mewakili kenalan, sekaligus ingin memperluas jaringan. Baginya, setiap pertemuan sosial bisa menjadi ladang belajar. Toh, pengalaman mengajarkan bahwa ide-ide terbaik sering kali lahir bukan di ruang rapat, tapi di ruang obrolan santai.
Acara berjalan meriah tumpeng, huburan, canda tawa. Namun bagian paling ditunggu adalah Leader Session sebuah diskusi ringan yang dipandu langsung oleh Pak RT. Malam itu, narasumber utamanya adalah seorang tokoh yang cukup disegani di komplek itu Pak Jono.
“Hmm RT ini memang gak main main” guman Kadir dalam hati.
Cerita Pak Jono dan Tepuk Tangan yang Menggema
Pak Jono dikenal sebagai pengusaha sukses yang membangun bisnis keluarga dari nol. Dengan senyum hangat, ia bercerita tentang prinsip hidupnya.
“Sejak saya mulai berumah tangga,” ujarnya, “saya punya sepuluh ART yang membantu di rumah. Dan sampai hari ini, saya tidak pernah sekalipun memecat mereka.”
Ruangan sontak riuh oleh tepuk tangan. Beberapa bahkan bersiul kagum. Ada aura kebanggaan di wajah Pak Jono. Baginya, itu adalah pencapaian moral bukti ia pemimpin yang adil, sabar, dan membuat orang betah.
Kadir tersenyum. Ia bisa memahami kekaguman audiens. Tidak semua orang bisa menjaga hubungan dengan tim dalam jangka panjang. Tetapi di benaknya, sebuah pertanyaan besar muncul:
“Apakah dalam bisnis, tidak pernah memecat adalah sesuatu yang membanggakan?”
Antara Loyalitas dan Kenyataan
Dalam rumah tangga, kisah Pak Jono memang indah. Hubungan yang stabil, penuh kepercayaan, dan tanpa gejolak. Loyalitas para ART itu jelas menunjukkan kepemimpinan yang hangat.
Namun dalam dunia bisnis, realitasnya jauh lebih kompleks.
Perusahaan bukan hanya soal menjaga orang tetap tinggal. Ia adalah organisme yang terus bergerak. Kebutuhan berubah seiring waktu. Tantangan bertambah. Kompetensi yang relevan hari ini bisa jadi usang besok.
Jika seorang pemimpin terlalu bangga “tidak pernah memecat,” justru muncul pertanyaan lain:
- Apakah perusahaan cukup berani mengambil keputusan sulit?
- Apakah tim berkembang sesuai kebutuhan zaman?
- Ataukah justru perusahaan berjalan stagnan, tanpa penyegaran dan tanpa pertumbuhan?
Dalam bahasa manajemen, kesehatan organisasi tidak diukur dari “angka nol pemecatan,” melainkan dari tingkat keberhasilan perusahaan mengelola siklus hidup karyawan mulai dari rekrutmen, pengembangan, hingga perpisahan yang sehat (healthy exit).
Memahami Arti “Turnover”
Mari kita masuk ke ranah yang lebih praktis. Dalam bisnis, ada istilah turnover karyawan adalah jumlah karyawan yang keluar, baik karena resign maupun karena pemutusan hubungan kerja.
Turnover tidak selalu buruk. Justru dalam kadar tertentu, turnover menandakan adanya dinamika sehat. Karyawan yang sudah tidak cocok dengan kultur perusahaan memilih jalan lain. Perusahaan pun bisa merekrut darah segar dengan keterampilan baru.
Sebaliknya, turnover yang terlalu rendah bisa menjadi sinyal bahaya:
- Karyawan tidak berkembang, hanya “betah” karena nyaman.
- Tidak ada ruang penyegaran ide.
- Perusahaan menahan orang-orang yang mungkin sudah tidak relevan dengan kebutuhan.
Tentu, turnover yang terlalu tinggi juga berbahaya. Biaya rekrutmen membengkak, tim kehilangan stabilitas, dan budaya kerja terguncang.
Maka, yang sehat adalah keseimbangan. Pemimpin yang bijak bukan bangga karena tidak pernah memecat, tapi karena mampu menjaga turnover di level ideal yang cukup rendah untuk menjaga stabilitas, dan memberikan ruang yang cukup tinggi untuk inovasi.
Contoh dari Dunia Nyata
Mari bandingkan dua kasus:
1. Kasus A: Perusahaan Keluarga Tradisional
Sebuah perusahaan keluarga di kota kecil bangga karena karyawannya sudah bekerja puluhan tahun tanpa ada yang keluar. Stabil memang, tapi mereka kesulitan beradaptasi ketika bisnis digital mulai merambah. Karyawan yang sama tidak memiliki keterampilan baru, dan perusahaan akhirnya kalah bersaing. Loyalitas tinggi, tapi stagnasi membunuh.
2. Kasus B: Startup Teknologi
Sebuah startup di Jakarta mengalami turnover tinggi. Banyak karyawan masuk keluar dalam waktu singkat. Namun sang founder memaknai itu sebagai proses penyaringan. Mereka terus merekrut orang baru dengan keterampilan lebih relevan. Hasilnya, meski penuh gejolak, perusahaan tumbuh pesat dan akhirnya diakuisisi dengan valuasi tinggi.
Dari sini terlihat turnover bukan masalah pada dirinya sendiri. Yang bermasalah adalah ketika perusahaan tidak mengelola turnover dengan benar.
Seni Memimpin. Bukan Menahan, Tapi Mengembangkan
Pemimpin yang baik bukan hanya menjaga agar orang bertahan, melainkan memberi mereka ruang untuk berkembang.
Terkadang, perkembangan itu berarti mereka akan tetap bersama perusahaan. Terkadang, justru berarti mereka harus pergi entah karena dipindahkan ke peran baru, atau karena jalan mereka memang sudah berbeda.
Banyak pemimpin hebat justru bangga ketika mantan karyawannya sukses di tempat lain. Itu tanda bahwa perusahaan menjadi batu loncatan yang sehat, bukan penjara kenyamanan.
Baca Juga :
Clarity is kindness.
Pelajaran yang Kadir Tangkap
Malam itu, Kadir merenung dalam perjalanan pulang. Ia paham maksud Pak Jono ada nilai luhur di balik cerita tidak pernah memecat. Namun ia juga belajar bahwa dalam bisnis, idealnya bukan itu ukuran keberhasilan.
Ukuran keberhasilan seorang pemimpin adalah:
- Apakah ia menciptakan lingkungan di mana orang bisa berkembang?
- Apakah ia berani mengambil keputusan sulit demi kepentingan tim dan perusahaan?
- Apakah ia mampu menjaga keseimbangan antara loyalitas dan kebutuhan perubahan?
Pemimpin sejati bukan hanya yang dicintai karena loyal, tetapi juga dihormati karena adil dan bijak dalam mengambil keputusan.
Membangun Warisan yang Sehat
Kisah Pak Jono malam itu layaknya cermin. Ia menunjukkan sisi hangat kepemimpinan yang sering terlupakan. Namun dalam dunia bisnis, pemimpin dituntut lebih dari sekadar menjaga kenyamanan.
Pemimpin sejati membangun warisan organisasi yang sehat, tim yang berkembang, dan keputusan-keputusan yang meski sulit, justru membawa kebaikan jangka panjang.
Tidak pernah memecat mungkin terdengar indah di panggung, tapi yang lebih membanggakan adalah menciptakan sistem yang membuat setiap orang, entah bertahan atau pergi, tetap tumbuh bersama perjalanan perusahaan.
-SCU & MRP-





