Di sebuah pagi, kabar tentang gelombang demonstrasi besar yang meluas terdengar hampir di semua media. Jalanan utama ditutup, distribusi barang tersendat, dan beberapa pusat perbelanjaan terpaksa menurunkan rolling door lebih awal. Di sisi lain, berita global tidak kalah mengkhawatirkan harga pangan melonjak, krisis energi, iklim ekonomi diguncang ketidakpastian, sementara pasar dunia belum sepenuhnya pulih.
Dalam kondisi seperti ini, wajar jika para pelaku usaha kecil dan menengah merasa khawatir. Bagaimana jika bahan baku tidak sampai? Bagaimana jika pelanggan berkurang drastis? Bagaimana menjaga karyawan tetap bertahan ketika arus kas terhimpit?
Ketidakpastian bukanlah hal baru dalam dunia bisnis. Namun, beberapa tahun terakhir kita melihat frekuensinya meningkat. Pandemi, krisis energi, inflasi global, hingga instabilitas sosial. Inilah yang menjadikan Business Continuity Plan (BCP) bukan lagi milik perusahaan besar semata, melainkan kebutuhan mendesak bagi UMKM.
UMKM di Tengah Ketidakpastian. Rentan tapi Kuat
UMKM sering disebut sebagai tulang punggung perekonomian. Data Kementerian Koperasi dan UKM menunjukkan, lebih dari 60% PDB Indonesia disumbang oleh sektor ini, dan lebih dari 95% tenaga kerja terserap di dalamnya. Artinya, jika UMKM terguncang, perekonomian ikut melemah.
Sayangnya, UMKM juga yang paling rapuh saat krisis. Ada beberapa alasannya:
1. Modal terbatas : cadangan kas tipis, sulit bertahan lebih dari 2–3 bulan jika pemasukan terganggu.
2. Akses logistik yang rapuh : sebagian besar bergantung pada satu atau dua pemasok utama.
3. Manajemen krisis minim : jarang memiliki skenario darurat jika hal tak terduga terjadi.
4. Ketergantungan pada pasar lokal : jika pasar sekitar lumpuh, omzet langsung hilang.
Namun, bukan berarti UMKM selalu kalah dalam krisis. Justru banyak yang lebih adaptif dibanding korporasi besar. Fleksibilitas mereka bisa menjadi keunggulan asal diarahkan dengan rencana yang tepat.
Apa Itu Business Continuity Plan (BCP)?
Secara sederhana, BCP adalah rencana cadangan agar bisnis tetap bisa berjalan meski dalam kondisi terburuk sekalipun.
BCP menjawab pertanyaan penting:
- Apa yang akan dilakukan jika pasokan bahan baku terhenti?
- Bagaimana cara menjaga operasional saat karyawan tidak bisa hadir?
- Bagaimana tetap melayani pelanggan ketika toko fisik harus ditutup?
- Bagaimana memulihkan bisnis setelah krisis mereda?
Banyak orang mengira BCP adalah dokumen tebal penuh istilah rumit. Padahal, bagi UMKM, BCP bisa disusun dengan sederhana. Prinsipnya hanya tiga: siap, sigap, dan pulih.
Kerangka Praktis BCP untuk UMKM
Mari kita turunkan konsep besar ini ke langkah-langkah sederhana yang bisa langsung dikerjakan oleh UMKM.
1. Identifikasi Risiko
Tuliskan risiko apa saja yang mungkin mengganggu bisnis. Contohnya:
- Krisis sosial (demonstrasi, kerusuhan, penutupan akses jalan)
- Krisis ekonomi (inflasi, pelemahan daya beli)
- Krisis kesehatan (pandemi, wabah lokal)
- Gangguan operasional (pemasok berhenti, listrik padam, logistik terhambat)
Jangan hanya memikirkan yang “paling mungkin,” tapi juga yang “paling berdampak.”
2. Rencana Respons
Setelah risiko teridentifikasi, buatlah skenario respons.
- Jika bahan baku terputus : punya pemasok cadangan.
- Jika toko fisik tidak bisa buka : alihkan ke penjualan online.
- Jika karyawan tidak bisa hadir : siapkan SOP kerja jarak jauh atau jadwal bergilir.
3. Alternatif Operasional
Tentukan jalur alternatif agar bisnis tetap berjalan meski kondisi normal terganggu.
- Gunakan teknologi digital untuk melayani pelanggan.
- Simpan stok darurat untuk 2–4 minggu.
- Jalin kemitraan dengan pelaku usaha lain untuk berbagi sumber daya.
4. Komunikasi Krisis
Saat krisis, komunikasi bisa menyelamatkan reputasi.
- Pastikan pelanggan tahu bahwa bisnis tetap melayani meski dengan cara berbeda.
- Gunakan kanal yang cepat misal WhatsApp, media sosial, SMS blast.
- Sampaikan informasi jelas, singkat, dan jujur.
5. Recovery Plan
BCP bukan hanya tentang bertahan, tapi juga bangkit.
- Susun rencana pemulihan keuangan pasca krisis.
- Evaluasi kerugian dan prioritaskan perbaikan yang paling kritis.
- Pertahankan pelanggan yang setia dengan program loyalitas.
6. Evaluasi & Latihan
Rencana tanpa simulasi sering hanya berhenti di kertas.
- Uji coba BCP lewat simulasi sederhana.
- Misalnya, “apa yang terjadi jika besok pemasok utama berhenti kirim barang?”
- Dari latihan itu, perbaiki rencana agar lebih realistis.
Template BCP untuk UMKM
Berikut contoh tabel sederhana yang bisa dijadikan acuan:
| Risiko Potensial | Dampak pada Bisnis | Rencana Respons | Alternatif Operasional | Penanggung Jawab |
|---|---|---|---|---|
| Pasokan bahan baku terhenti | Produksi berhenti, omzet turun | Hubungi pemasok cadangan | Gunakan bahan substitusi sementara | Pemilik / Manager |
| Toko fisik tidak bisa buka | Penjualan turun drastis | Alihkan ke penjualan online | Layanan pesan-antar via ojek online | Tim Sales |
| Karyawan tidak hadir | Operasional terganggu | Atur jadwal bergilir | Terapkan WFH untuk pekerjaan administratif | HR/Owner |
| Gangguan listrik | Produksi terhenti, layanan offline | Sewa genset / UPS | Batasi produksi sementara | Teknisi / Owner |
| Krisis sosial (akses jalan ditutup) | Distribusi terhambat | Gunakan jalur alternatif | Titip stok di gudang mitra dekat pasar | Logistik |
Tabel sederhana ini bisa disesuaikan dengan jenis usaha masing-masing.
UMKM Kuliner di Tengah Krisis
Sebutlah sebuah usaha katering kecil di kota menengah. Saat pandemi melanda, hampir semua pesanan acara dibatalkan. Jika tidak segera bergerak, bisnis itu bisa tutup dalam hitungan minggu.
Pemiliknya kemudian membuat “mini BCP”:
- Mengalihkan penjualan ke paket makanan rumahan yang bisa dikirim via ojek online.
- Menyusun menu hemat untuk menjaga daya beli pelanggan.
- Mengatur jadwal karyawan secara bergilir agar biaya operasional lebih ringan.
- Menggunakan media sosial untuk komunikasi cepat dengan pelanggan.
Hasilnya, bisnis itu memang tidak sekuat sebelum krisis, tetapi tetap bertahan. Bahkan, ketika kondisi pulih, mereka sudah memiliki basis pelanggan baru dari kalangan keluarga yang sebelumnya tidak pernah memesan.
Kisah seperti ini membuktikan, BCP bukan sekadar teori perusahaan besar, tetapi nyata bisa menyelamatkan UMKM.
Baca Juga :
Saya Tidak Pernah Memecat Karyawan.
Daya Tahan adalah Strategi
Krisis, dalam bentuk apapun, adalah bagian dari siklus bisnis. Tidak ada yang bisa memprediksi kapan datangnya, tetapi semua bisa memilih bagaimana meresponsnya.
UMKM yang punya BCP mungkin tidak kebal dari dampak krisis. Namun, mereka punya pijakan lebih kuat untuk bertahan. Mereka tidak panik ketika pintu depan tertutup, karena sudah menyiapkan pintu samping.
Daya tahan bukan berarti menunggu badai reda, melainkan menyiapkan perahu agar tetap bisa mengapung. Di tengah dunia yang semakin tidak pasti, Business Continuity Plan adalah kompas yang menuntun UMKM untuk tetap bergerak, meski arah angin berubah.
-SCU & MRP-





