Seandainya orang bisa membaca pikiran, Kadir mungkin tak perlu repot-repot menjelaskan panjang lebar. Tak perlu memberi arahan detail. Tak perlu mengulang pesan yang sama berkali-kali.
Namun kenyataannya, tidak ada satu pun anggota tim yang bisa menebak isi kepalanya. Dan dari situlah semua masalah bermula.
Awal Mula Salah Paham
Kadir termasuk tipe pemimpin yang cepat. Ia terbiasa bergerak kilat, mengambil keputusan spontan, dan berharap tim bisa langsung mengikuti arahnya. Baginya, sebuah instruksi sederhana sudah cukup jelas “Tolong kerjakan desain brosur.”
Namun bagi tim, kalimat itu seperti kotak kosong. Desain seperti apa? Warna apa yang diinginkan? Deadline-nya kapan? Output-nya hanya untuk internal atau publik?
Karena tidak ada detail, masing-masing anggota tim menafsirkan dengan caranya sendiri. Hasil akhirnya tentu jauh dari ekspektasi. Kadir kesal karena merasa timnya tidak mengerti. Tim frustrasi karena merasa disalahkan atas hal yang tidak pernah dijelaskan dengan jelas.
Dulu, Kadir mengira semua orang “pasti paham” maksudnya. Ia menganggap cukup memberi garis besar, lalu tim akan menyambungkan sendiri detailnya. Seakan-akan mereka bisa membaca pikirannya.
Dan di sinilah pelajaran pertamanya asumsi adalah jebakan terbesar dalam komunikasi.
Asumsi yang Mahal
Kebiasaan tidak detail bukan sekadar membuat salah paham kecil. Dalam bisnis, dampaknya bisa berlipat ganda.
- Proposal bisa salah format, membuat perusahaan tampak tidak profesional.
- Klien bisa kecewa karena ekspektasi tidak terpenuhi.
- Tim bisa kehilangan motivasi karena merasa sering “disalahkan tanpa arahan jelas.”
Biaya salah paham itu mahal. Tidak selalu dalam bentuk uang, tetapi dalam bentuk energi yang terbuang, reputasi yang terguncang, bahkan hubungan kerja yang retak.
Kadir baru benar-benar sadar ketika satu proyek besar dengan klien nyaris gagal hanya karena miskomunikasi. Ia merasa sudah menjelaskan, tim merasa belum jelas, dan klien yang menjadi korban. Untunglah ada ruang perbaikan, tapi pengalaman itu jadi titik balik baginya.
Dari Salah Paham ke Konfirmasi
Sejak saat itu, Kadir mulai mengubah pendekatannya. Ia belajar satu hal penting: konfirmasi bukan tanda ketidakpercayaan, melainkan tanda keseriusan.
Ada dua kebiasaan baru yang ia bangun:
1. Mengonfirmasi informasi yang masuk. Jika ada instruksi dari atasan atau permintaan dari klien, ia tidak langsung meneruskannya ke tim. Ia cek ulang benar begitu maksudnya? Ada detail tambahan? Ada prioritas khusus?
2. Mengonfirmasi instruksi yang keluar. Setiap kali memberi arahan ke tim, ia pastikan mereka mengerti. Ia tanya balik: “Coba jelaskan ke saya apa yang kamu tangkap.” Dari situ, ia bisa tahu apakah pesannya sampai atau masih samar.
Mungkin terdengar sepele. Tapi dua kebiasaan ini mengubah banyak hal. Salah paham berkurang drastis, tim lebih percaya diri bekerja, dan hubungan kerja jadi lebih sehat.
Komunikasi Itu Bukan Sekadar Bicara
Pelajaran yang Kadir dapatkan sangat relevan untuk banyak pemimpin bisnis. Dalam organisasi, seringkali masalah bukan terletak pada kurangnya kemampuan teknis, melainkan pada buruknya komunikasi.
Ada tiga kesalahan umum yang dulu sering Kadir lakukan:
- Mengira semua orang punya konteks yang sama. Padahal, apa yang jelas di kepalanya belum tentu jelas bagi tim.
- Memberi instruksi setengah jadi. Asumsi bahwa tim bisa melengkapi sendiri malah berujung salah arah.
- Tidak membuka ruang untuk bertanya. Tim sungkan, Kadir sibuk, akhirnya miskomunikasi terus berulang.
Seiring waktu, ia menyadari bahwa komunikasi efektif bukan soal banyak bicara, melainkan soal memastikan pesan benar-benar sampai. Dan konfirmasi adalah alat paling sederhana tapi ampuh untuk itu.
Studi Kasus, Ketika Tidak Ada Konfirmasi
Mari bayangkan dua situasi berbeda.
Situasi A (tanpa konfirmasi):
Seorang manajer memberi instruksi: “Besok kita presentasi di klien. Tolong siapkan bahan.”
- Tim A berpikir yang dimaksud adalah presentasi PowerPoint.
- Tim B berpikir yang dimaksud adalah prototype produk.
Hasilnya? Malam itu tim bekerja keras, tapi esok paginya manajer marah karena tidak ada yang sesuai ekspektasi.
Situasi B (dengan konfirmasi):
Instruksi yang sama disampaikan. Lalu manajer menambahkan: “Bahan presentasi yang saya maksud adalah PowerPoint 10 slide, berisi data penjualan kuartal terakhir. Tolong draft awal selesai malam ini jam 8, supaya bisa saya review.” Tim menjawab ulang “Baik, berarti kita siapkan 10 slide PowerPoint tentang penjualan kuartal terakhir, dikirim sebelum jam 8 malam.” Besok pagi, presentasi berjalan lancar.
Perbedaan utama bukan pada kualitas tim, melainkan pada kebiasaan konfirmasi.
Mengapa Kita Jarang Mengonfirmasi?
Banyak orang enggan melakukan konfirmasi karena merasa:
- “Nanti dikira tidak percaya.”
- “Sudah jelas kok, ngapain ditanya lagi?”
- “Malu kalau terlihat bodoh.”
Padahal, realitanya justru sebaliknya. Tim yang berani konfirmasi dianggap lebih profesional. Pemimpin yang membiasakan konfirmasi dianggap lebih teliti. Dan organisasi yang punya budaya konfirmasi akan lebih jarang terjebak salah paham.
Kadir yang dulu merasa “membuang waktu” dengan konfirmasi, kini justru merasa lebih hemat energi. Ia tidak lagi mengulang pekerjaan karena salah arah, tidak lagi sering konflik karena miskomunikasi, dan bisa lebih fokus pada hasil.
Konfirmasi dalam Leadership
Dalam literatur manajemen, ada satu prinsip yang sering dikutip “Clarity is kindness.” Kejelasan adalah bentuk kebaikan.
Ketika seorang pemimpin memberi instruksi dengan jelas, itu artinya ia menghargai waktu dan tenaga timnya. Ketika seorang anggota tim berani mengonfirmasi, itu artinya ia menghargai ekspektasi atasannya.
Kadir belajar, kepemimpinan bukan hanya soal memberi arah, tapi juga soal menjembatani makna. Apa yang ada di kepala pemimpin harus bisa dipahami tim dengan bahasa yang sama. Tanpa itu, kepemimpinan hanya akan menjadi monolog.
Transformasi Kadir
Kini, setiap kali Kadir memberi arahan, ia selalu menutup dengan kalimat
“Coba ulangi ke saya, biar saya pastikan kita satu pemahaman.”
Awalnya terasa kaku. Lama-lama menjadi kebiasaan. Tim pun terbiasa menjawab balik dengan detail. Proyek-proyek berjalan lebih lancar. Konflik komunikasi hampir tidak ada.
Kadir tersenyum mengingat dirinya yang dulu. Andai saja ia sejak awal sadar bahwa tidak ada yang bisa membaca pikiran, mungkin banyak energi bisa dihemat.
Namun ia juga bersyukur. Kesalahan-kesalahan itu yang akhirnya membawanya pada satu kesimpulan Komunikasi yang baik bukan soal banyak bicara, melainkan soal memastikan makna benar-benar sampai.
Penutup Reflektif
Dalam dunia bisnis, salah paham bisa lebih berbahaya daripada kekurangan modal.
Instruksi yang kabur bisa menghancurkan semangat tim. Ekspektasi yang tidak jelas bisa merusak hubungan dengan klien.
Kisah Kadir mengingatkan bahwa konfirmasi adalah kebiasaan sederhana yang punya dampak luar biasa.
Seandainya orang bisa membaca pikiran, konfirmasi tidak perlu. Tapi karena kita tidak hidup di dunia fiksi, maka memastikan pemahaman adalah bagian dari profesionalitas.
Konfirmasi bukan tanda kelemahan, melainkan tanda kedewasaan.
Dan organisasi yang membiasakan budaya konfirmasi akan selalu lebih tangguh menghadapi tantangan, karena mereka berjalan dengan kepastian, bukan dengan asumsi.
-SCU & MRP-





