Di balik produk-produk yang akrab di meja rias jutaan perempuan Indonesia seperti Wardah, Emina, dan Make Over ada satu kekuatan yang jarang dibicarakan tetapi menjadi pondasi seluruh lompatan pertumbuhan Paragon, yakni kemampuan mereka membangun manusia.
Paragon mungkin besar karena inovasi produknya.
Tapi Paragon bisa bertahan, berkembang, dan mendominasi karena cara mereka memperlakukan manusia karyawan, tim, pemimpin sebagai aset paling strategis dalam bisnis.
People Development bukan program HR.
Di Paragon, People Development adalah cara bernapas perusahaan.
Dan di sinilah letak pelajaran penting bagi banyak pemilik usaha bahwa bisnis tidak akan pernah melompat sejauh itu jika manusianya tidak ikut melompat.
Budaya yang Dibangun Secara Sengaja, Bukan Terjadi Sendiri
Banyak perusahaan menulis nilai perusahaan di poster dinding, lalu berharap semua itu akan otomatis dipahami. Paragon tidak begitu. Mereka sadar bahwa budaya tidak jatuh dari langit. Budaya terbentuk dari desain, keteladanan, dan konsistensi.
Mereka memilih empat pilar besar: growth mindset, empati, servant leadership, dan kolaborasi.
Keempatnya bukan jargon. Ia muncul di ruang rapat, ruang produksi, metode pengambilan keputusan, hingga cara karyawan baru dibimbing.
Budaya mulai terasa ketika perilaku terpola.
Dan di Paragon, pola itu dirancang dengan sangat sadar.
Setiap orang tahu bagaimana memberikan feedback, bagaimana menghadapi kesalahan, bagaimana menyelesaikan masalah antar fungsi, dan bagaimana memastikan keputusan tidak mengorbankan nilai perusahaan.
Budaya yang disengaja menghasilkan organisasi yang tidak mudah goyah meski menghadapi pertumbuhan besar.
Growth Mindset.
Mesin yang Mendorong Setiap Orang ke Versi Lebih Baik
Perusahaan bisa membeli produk, teknologi, bahkan sistem. Tapi tidak ada yang bisa dibeli untuk mendapatkan manusia yang mau terus belajar.
Paragon menjadikan growth mindset sebagai ritme harian.
Karyawan tidak takut salah. Kesalahan dibahas, bukan disembunyikan.
Yang dicari bukan “siapa yang salah”, tetapi “proses mana yang perlu diperbaiki”.
Pertanyaan yang sering muncul “Versi berikutnya dari proses ini harus seperti apa?”
Itulah sebabnya Paragon bergerak cepat. Setiap orang berorientasi ke depan.
Setiap tim bertanggung jawab pada peningkatan berkelanjutan. Setiap kesalahan menjadi input, bukan intimidasi.
Sebuah budaya yang membuat perusahaan tahan terhadap krisis dan adaptif terhadap perubahan pasar.
Empati.
Keterampilan Bisnis yang Jarang Disebut, Tapi Sangat Menentukan
Empati sering salah dipahami sebagai kelembutan.
Padahal dalam konteks operasional, empati adalah alat membaca situasi tentang apa yang pelanggan butuhkan, apa yang membuat karyawan tidak fokus, apa yang menghambat kerja sama antar fungsi.
Inilah sebabnya Wardah bisa begitu dekat dengan konsumen Indonesia karena produk dan komunikasi mereka lahir dari pemahaman manusia yang nyata.
Di Paragon, empati bukan hanya alat memahami pasar, tetapi juga cara bekerja.
Ketika tim merasa dilihat, didengar, dan dihargai, mereka cenderung bekerja lebih baik dan bertahan lebih lama. Customer engagement tumbuh bukan dari iklan, tetapi dari organisasi yang memahami manusia.
Empati mempercepat penyelesaian konflik, memperhalus komunikasi, dan memperkuat kohesi tim. Itu sebabnya Paragon kuat bukan hanya di pasar, tetapi juga di dalam organisasinya sendiri.
Servant Leadership.
Pemimpin yang Mempermudah, Bukan Menyulitkan
Salah satu pergeseran paling penting yang dilakukan Paragon adalah menempatkan pemimpin sebagai pelayan arah dan proses, bukan pengawas.
Di perusahaan ini, pemimpin bertugas:
- Membersihkan hambatan tim,
- Memberi kejelasan tujuan,
- Memperbaiki sistem yang rusak,
- Memastikan orang bisa bekerja tanpa friksi berlebihan.
Supervisor dan manager dilatih untuk melihat diri sebagai katalis pertumbuhan tim, bukan pusat perhatian. Performance dinilai dari bagaimana mereka membuat orang lain lebih mampu, bukan seberapa keras mereka mengontrol.
Hasilnya adalah organisasi yang bergerak cepat. Karena ketika pemimpinnya mempermudah, bukan mempersulit, kecepatan eksekusi meningkat secara alami.
Servant leadership bukan lembek.
Ini justru bentuk kepemimpinan paling efisien.
Kolaborasi.
Sistem yang Menghasilkan Inovasi Tanpa Ego.
Inovasi kosmetik bergerak cepat.
Tren berubah dengan hitungan minggu.
Jika setiap departemen bekerja sendiri-sendiri, Paragon tidak akan pernah bisa mengikuti ritme pasar.
Itulah mengapa mereka membangun kolaborasi sebagai metode kerja, bukan acara tahunan.
- Marketing tidak merasa lebih penting dari R&D.
- R&D tidak merasa lebih ahli dari produksi.
- Produksi tidak merasa lebih vital dari distribusi.
Setiap fungsi memegang satu tujuan yakni menang bersama.
Ketika orang tidak sibuk mempertahankan ego, mereka punya ruang untuk mencipta, berkoordinasi cepat, dan menyelesaikan konflik tanpa drama.
Inilah yang membuat Paragon mampu merilis produk baru dengan cepat, akurat, dan relevan.
Fondasi Utama.
Keyakinan Bahwa Manusia adalah Aset, Bukan Biaya
Jika diminta merumuskan kekuatan Paragon dalam satu kalimat, mungkin jawabannya adalah,
“Mereka benar-benar percaya bahwa ketika manusianya tumbuh, bisnisnya ikut tumbuh.”
Keyakinan ini tidak berhenti di pidato. Ia diwujudkan menjadi sistem konkret:
- Onboarding yang membantu karyawan baru memahami nilai perusahaan.
- Pelatihan berjenjang, dari skill teknis hingga soft skills.
- Coaching internal untuk pemimpin baru.
- Evaluasi berbasis perilaku, bukan hanya angka.
- Jalur karier yang transparan.
- Ruang mencoba dan ruang salah.
- Feedback mingguan antarpemimpin dan tim.
- Pembiasaan rapat yang mendorong keterbukaan dan pembelajaran.
Paragon tidak hanya membuat orang bekerja. Mereka membuat orang bertumbuh. Dan itu membuat bisnis bertahan dalam jangka panjang.
Pelajaran untuk Pemilik Usaha. Rekrut Nilai, Latih Kemampuan
Banyak pemilik usaha ingin tim seperti Paragon, tetapi memulai dari tempat yang salah. Mereka mengira yang dibutuhkan adalah seminar mahal atau program HR kompleks.
Padahal prinsipnya sederhana:
1. Rekrut nilai, bukan sekadar skill. Carilah orang yang mau belajar, jujur, bisa bekerja sama, dan punya energi positif. Nilai lebih mahal daripada keahlian.
2. Latih kemampuan di medan nyata. Berikan SOP yang jelas, contoh kerja yang konkret, dan kesempatan mengambil tanggung jawab bertahap.
3. Biasakan feedback mingguan. Bukan untuk mencari kesalahan, tetapi untuk memastikan semua selaras.
4. Pemimpin harus mempermudah, bukan memperketat. Jika pemimpin sibuk mengawasi, tim akan melambat. Jika pemimpin sibuk menghilangkan hambatan, tim akan melesat.
5. Budaya harus dirancang. Tuliskan perilaku yang Anda inginkan dari tim, latih, dan konsisten menerapkannya.
Baca Juga :
Ketika Pengusaha Lupa Menekan Tombol On/Off.
Bisnis Melesat Ketika Manusianya Ikut Melesat
Kekuatan Paragon bukan pada pabriknya, bukan pada alatnya, bukan pada modalnya. Kekuatan Paragon ada pada kemampuannya melihat manusia sebagai inti dari semua pertumbuhan.
Dan pelajaran terbesar bagi pemilik usaha adalah sederhana:
Jika ingin bisnis tumbuh, bangun manusianya. Karena orang yang bertumbuh akan selalu menemukan cara membuat bisnis ikut bertumbuh.
-SCU & MRP-





