Di dunia bisnis, angka tidak pernah berdiri sendiri. Ia bisa menjadi cermin yang jujur, atau bayangan yang menyesatkan. Ketika Bloomberg Technoz menyoroti laporan keuangan Fore Coffee, fokus utama analisisnya berada pada margin yang tipis, liabilitas yang besar, serta kas yang melonjak karena IPO. Semua poin itu benar. Namun, angka-angka tersebut hanya mewakili satu sisi dari cerita yang sedang dialami perusahaan kopi lokal terbesar di Indonesia ini.
Sejak resmi melantai di bursa, Fore memasuki fase yang paling menentukan dalam perjalanannya. Setelah bertahun-tahun menganut pola “tumbuh dulu, untung belakangan”, mereka kini menata ulang arah: memperlambat ekspansi, memperkuat efisiensi, dan menunjukkan bahwa kopi lokal bisa berdiri di atas pondasi profitabilitas yang lebih sehat.
Di titik inilah dua cara membaca laporan keuangan biasanya berpisah:
- Pendekatan konservatif, yang menekankan kehati-hatian; dan
- Pendekatan agresif, yang melihat potensi pertumbuhan.
Analisis ini mencoba menempatkan keduanya secara seimbang, dengan tetap berdiri di atas data. Piawai Bisnis tidak memiliki hubungan apa pun dengan Fore Coffee, dan pembahasan ini disampaikan untuk menunjukkan bahwa data yang sama dapat menghasilkan kesimpulan berbeda tergantung dari sudut pandangnya.
Margin Tipis Tidak Selalu Berarti Risiko
Bloomberg Technoz mencatat bahwa laba bersih Fore naik 42% menjadi Rp60,1 miliar dari pendapatan Rp1,04 triliun, dengan margin sekitar 6%. Data itu tepat. Namun, konteks yang sering hilang adalah cara margin ini terbentuk.
Kenaikan laba Fore tidak datang dari efisiensi mendadak, tetapi dari pertumbuhan volume penjualan, ekspansi gerai, dan peningkatan transaksi pelanggan. Dalam tahap scale-up, margin tipis bukan sinyal bahaya, itu adalah salahtu tanda transisi. Beban sewa, tenaga kerja, logistik, dan promosi akan selalu mendahului kenaikan pendapatan.
Pertanyaan pentingnya bukan “mengapa marginnya kecil,” tetapi “apakah margin kecil ini stabil dan bisa membesar?”
Dan pada kasus Fore, jawabannya: ya.
Setelah bertahun-tahun mengandalkan modal ventura, Fore kini menjaga margin positif sambil tetap bertumbuh. Angka 6% bukan cermin kelemahan, melainkan indikasi bahwa perusahaan mulai menemukan pijakan finansial yang lebih kuat.
Tentang Utang Rp403 Miliar: Tidak Semua Liabilitas Berbahaya
Total liabilitas Fore mencapai Rp403 miliar, termasuk liabilitas sewa sebesar Rp171,5 miliar dan utang usaha Rp93 miliar. Angka itu akurat, tetapi istilah “utang” mudah disalahpahami.
Sebagian besar komponen tersebut bukan pinjaman berbunga, melainkan kewajiban sewa jangka panjang dimana biaya operasional wajar untuk bisnis ritel yang berbasis gerai. Dengan debt to equity ratio (DER) sekitar 0,6x setelah IPO, struktur permodalan Fore tergolong sehat untuk perusahaan ritel yang sedang tumbuh.
Mereka memiliki ruang untuk berekspansi tanpa harus menambah pinjaman, dan itu posisi strategis bagi perusahaan publik muda.
Kas Rp329 Miliar dari IPO. Likuiditas, Bukan Ilusi Laba
Lonjakan kas Fore memang berasal dari setoran modal IPO sekitar Rp353 miliar. Namun, dana IPO tidak pernah dicatat sebagai laba. Laba Rp60 miliar Fore murni berasal dari aktivitas operasionalnya.
Yang benar adalah tambahan kas dari IPO memperkuat likuiditas dan memperpanjang “napas pertumbuhan” perusahaan. Dengan kas besar dan arus kas operasi yang juga positif (+Rp162 miliar), Fore berada pada posisi keuangan terbaik sejak berdiri.
Fore Sedang Mengubah Arah
Dari luar, Fore seolah baru mulai menguntungkan. Dari dalam, ini adalah hasil perjalanan panjang dengan menutup gerai tidak efisien, merombak model operasional, hingga mematangkan posisi merek.
IPO bukan akhir, tetapi pintu menuju fase baru. Fase ketika perusahaan tidak lagi hidup dari pendanaan eksternal, tetapi dari kemampuan operasionalnya sendiri. Fase seperti ini juga rawan, karena banyak bisnis tumbuh besar justru kehilangan arah pada tahap kedewasaan.
Empat Risiko yang Perlu Diwaspadai Fore Coffee
01. Ekspansi berlebihan.
Godaan utama setelah IPO adalah menambah gerai secepat mungkin. Namun ekspansi tanpa unit economics yang kuat justru menggerus margin.
02. Identitas merek yang memudar.
Di tengah persaingan kopi yang semakin padat, diferensiasi rasa, desain gerai, dan pengalaman pelanggan menjadi kunci menjaga arah pertumbuhan.
03. Trade-off pertumbuhan dan profit.
Tekanan pasar bisa memaksa perusahaan mengejar angka lagi. Tantangannya adalah menjaga pertumbuhan tanpa mengorbankan disiplin biaya.
04. Budaya organisasi pasca-IPO.
Menjadi perusahaan publik membawa birokrasi yang lebih kompleks. Tantangan terbesarnya justru menjaga semangat startup agar tidak hilang.
Baca Artikel Dari Angka ke Arah (Bagian Enam) :
Target Bukan Segalanya: Kunci Bisnis Bertumbuh Ada di Pola nya
Menuju Kedewasaan Bisnis
Analisis Bloomberg Technoz menyentuh aspek-aspek penting yang patut menjadi perhatian. Namun, angka-angka itu hanya menunjukkan permukaan dari proses panjang yang sedang dijalani Fore Coffee.
Di balik margin tipis dan liabilitas tinggi, Fore sedang bertransformasi dari perusahaan yang berorientasi pada pertumbuhan menjadi perusahaan yang berorientasi pada profitabilitas berkelanjutan. Laporan keuangan hanyalah cermin, bukan arah.
Dan jika dibaca dengan jernih, cermin itu menunjukkan satu hal, Fore bukan lagi pemain baru yang berlari tanpa rencana, melainkan perusahaan kopi lokal yang mulai menemukan kecepatan terbaiknya sendiri.
Rebound sejati bukan sekadar bangkit dari krisis, tetapi kemampuan untuk belajar, menata ulang, dan berjalan dengan lebih bijak. Di persimpangan antara pertumbuhan dan kedewasaan, di situlah Fore Coffee kini berdiri.
-SCU & MRP-





