Dilakukan oleh orang pintar. Orang berpengalaman. Orang yang sangat tahu apa yang mereka lakukan.
Dan alasannya sederhana: menyampaikan kabar buruk kepada atasan itu berbahaya. Bagi karier. Bagi posisi. Bagi kenyamanan mereka di dalam organisasi.
Maka mereka memilih jalan yang terasa lebih aman.
Tidak bohong. Tapi tidak juga jujur sepenuhnya.
. . .
Begini cara kerjanya di lapangan.
Angkanya benar. Tidak ada yang dipalsukan. Laporan rapi, presentasi meyakinkan, semua orang mengangguk.
Tapi ada yang sengaja tidak disorot.
Tren negatif yang dikubur di halaman belakang. Masalah yang disebutkan tapi begitu pelan sehingga tidak terdengar seperti masalah. Forecast yang meleset, tapi dijelaskan sebagai “fase penyesuaian”.
Data tidak salah. Tapi ceritanya dirancang agar tidak ada yang panik.
Dan dari situlah keputusan-keputusan besar mulai dibuat di atas fondasi yang tidak kokoh.
. . .
Kalau yang pertama masih tergolong “aman”, yang kedua sudah masuk zona berbahaya:
Data yang dimodifikasi.
Angka yang tidak sesuai target dirapikan. Realisasi yang jauh meleset disandingkan dengan baseline yang diam-diam sudah digeser. Forecast yang salah disesuaikan mundur seolah memang begitu rencananya dari awal.
Hasilnya? Terlihat tidak terlalu buruk.
Dan itulah tepatnya masalahnya.
. . .
Kenapa ini terjadi?
Bukan karena timnya tidak kompeten. Justru sebaliknya mereka cukup kompeten untuk tahu apa yang ingin didengar oleh BOD.
Yang terjadi adalah ini Selama bertahun-tahun, ada sinyal yang dikirim dari atas ke bawah. Bahwa membawa masalah tanpa solusi itu tanda kelemahan. Bahwa rapat harusnya penuh optimisme. Bahwa angka merah adalah kegagalan personal bukan informasi yang perlu dikelola bersama.
Tim menangkap sinyal itu.
Dan mereka belajar menyesuaikan diri bukan dengan realita, tapi dengan ekspektasi.
. . .
Dampaknya tidak langsung terasa.
Justru itulah yang membuatnya berbahaya.
Enam bulan kemudian keputusan besar sudah diambil berdasarkan data yang tidak sepenuhnya jujur. Investasi sudah dikucurkan ke arah yang salah. Kebijakan sudah dijalankan berdasarkan angka yang terlalu optimis.
Dan ketika semuanya mulai retak, semua orang bingung.
Padahal sinyalnya sudah ada sejak lama. Hanya tidak pernah disampaikan apa adanya.
. . .
Maka pertanyaan yang perlu diajukan bukan “Kenapa angkanya bisa salah?” Tapi “Apakah tim kita benar-benar aman untuk menyampaikan kabar buruk?”
Bukan aman di atas kertas. Bukan aman secara teori.
Tapi aman secara budaya di mana orang yang membawa realita pahit justru dihargai, bukan dianggap sumber masalah.
Kalau jawabannya tidak pasti maka data yang selama ini masuk ke meja keputusan Anda, perlu dipertanyakan ulang.
. . .
Angka tidak pernah berbohong dengan sendirinya.
Yang membuat angka berbohong adalah sistem yang membuat orang merasa bahwa jujur terlalu mahal harganya.
Dan selama sistem itu tidak diubah keputusan terbaik pun akan selalu dibangun di atas informasi yang tidak bisa sepenuhnya dipercaya.
. . .
Dan inilah bagian yang paling menyakitkan:
Ketika kebohongan itu akhirnya terbongkar bukan dari laporan, tapi dari kenyataan di lapangan harganya tidak pernah murah.
Proyek yang harus dihentikan di tengah jalan. Anggaran yang sudah habis untuk arah yang salah. Kepercayaan antara BOD dan manajemen yang retak dan butuh waktu jauh lebih lama untuk diperbaiki dibanding waktu yang dibutuhkan untuk merusaknya.
Yang paling mahal bukan kerugian finansialnya. Tapi menyadari bahwa semua itu sebenarnya bisa dihindari kalau sejak awal ada satu orang yang berani menyampaikan angka apa adanya.
-SCU & MRP-





