• Masuk
Piawai Bisnis
Advertisement
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Piawai Bisnis
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Beranda Insight

Utang Produktif vs Konsumtif.  

Kapan Harus Ambil, Kapan Harus Tahan? 

Piawai Bisnis oleh Piawai Bisnis
22/09/2025
pada Insight
A A
0
utang produktif
0
Dibagikan
27
Dilihat

Bagaimana cara membedakan utang produktif dan konsumtif, rasio aman, dan waktu yang tepat untuk mengambil pinjaman? Mari dipahami dengan sadar.

Utang Bisa Menyuburkan, Bisa Juga Membunuh 

Banyak orang salah paham soal utang. Ada yang menghindarinya seolah utang adalah dosa. Ada juga yang begitu mudah mengambil utang seperti mengambil napas. Padahal, utang itu netral. Yang membuatnya menyelamatkan atau menghancurkan adalah siapa yang menggunakannya dan untuk apa. 

Bayangkan utang seperti api. Di dapur, ia membantu kita memasak. Di ruang tamu, ia bisa membakar rumah. Yang membedakan adalah konteks dan kendali. Sama seperti api, utang harus dipakai dengan kesadaran penuh bukan dorongan emosional. 

Baca Juga :
Mengapa Arus Kas Lebih Penting dari Laba?

Ketika Ambisi Tak Diiringi Strategi 

Lila, 28 tahun, lulusan sekolah mode yang punya talenta dan visi besar. Ia percaya bahwa modest fashion di Indonesia punya potensi besar, apalagi di era media sosial. Ia sudah mulai dari bawah, menjual koleksi kecil lewat Instagram, merintis pelan-pelan. 

Tapi lalu muncul tawaran pinjaman modal usaha dari bank. Limitnya besar, prosesnya cepat. Lila berpikir, “Ini kesempatan emas. Kalau saya nggak ambil sekarang, kapan lagi bisa scale up?” Tanpa business plan matang, ia ambil pinjaman Rp200 juta. 

Ia pakai uang itu untuk produksi skala besar, menyewa booth di pameran bergengsi, dan membayar influencer top. Masalahnya, tidak ada validasi pasar. Koleksi yang diproduksi ternyata tidak cocok dengan selera target market. Booth sepi. Influencer ternyata tidak mendongkrak penjualan secara signifikan. Dalam 4 bulan, modal habis, utang mulai jatuh tempo, dan bisnisnya goyah. 

Akhirnya? Lila gulung tikar. Sekarang, ia kembali bekerja kantoran untuk membayar cicilan utangnya selama tiga tahun ke depan. Ia belajar pelajaran mahal ” utang tanpa perhitungan adalah bom waktu.” 

Jadi, Kapan Sebaiknya Kita Mengambil Utang?

1. Pahami Jenis Utang: Produktif vs Konsumtif

  • Utang Produktif 

Ini utang yang digunakan untuk sesuatu yang menghasilkan uang. Misalnya, modal usaha, membeli alat kerja, kursus keterampilan yang langsung bisa menaikkan pendapatan. Utang ini bisa dibenarkan, asal perencanaannya realistis. 

  • Utang Konsumtif 

Ini utang untuk membeli sesuatu yang nilainya menurun atau tidak menghasilkan pendapatan. Contohnya: kredit HP terbaru, liburan dengan paylater, cicilan sofa baru. Jika bukan kebutuhan vital, utang jenis ini sebaiknya dihindari. 

2. Rumus Dasar Utang Sehat

“Utang yang sehat bukan yang paling besar, tapi yang paling terkendali.” 

Berikut beberapa prinsip dan rasio yang bisa dijadikan pegangan: 

  • Rasio Cicilan Maksimal: 30% dari Penghasilan Tetap 

Kalau penghasilan tetap Rp10 juta per bulan, maka cicilan utang sebaiknya tidak melebihi Rp3 juta. Ini untuk menjaga arus kas harian tetap aman. 

  • Untuk Usaha, Rasio Utang Terhadap Aset Maksimal 50% 

Kalau bisnis punya aset senilai Rp500 juta, maka utang maksimal Rp250 juta. Ini untuk menjaga kesehatan neraca usaha. 

  • Cash Flow Lebih Penting dari Aset 

Banyak orang merasa aman karena punya aset, padahal arus kas bulanan negatif. Ingat, utang dibayar dengan uang tunai, bukan dengan aset yang belum terjual. 

  • Utang Harus Punya Return Lebih Besar dari Besaran yang ditanggung

Kalau total tanggungan utang misal 100 juta per tahun, pastikan penggunaan uang itu bisa menghasilkan minimal lebih dari 100 juta dalam periode yang sama.

3. Jangan Tertipu Oleh “Niat Baik”

“Niat saya baik, kok. Saya pasti bayar.” 

Sayangnya, dunia nyata tidak bekerja berdasarkan niat. Niat baik tanpa kemampuan dan perencanaan hanya akan berakhir sebagai tekanan finansial. Bank tidak menagih niat, debt collector tidak menghapus cicilan karena semangat. 

Sebelum mengambil utang, tanyakan tiga hal penting ini: 

  1. Bagaimana cara saya membayar kembali? 
  2. Apa skenario terburuk jika rencana tidak berjalan lancar? 
  3. Kalau harus menunda, apa dampaknya lebih besar daripada kalau saya memaksakan sekarang? 

Jika jawabannya kabur, tunda. Jangan hanya karena “kesempatan langka” atau “godaan promo”. 

Utang Adalah Alat, Bukan Jalan Pintas 

Dalam hidup dan bisnis, utang bisa jadi jalan untuk tumbuh lebih cepat tapi juga bisa jadi batu yang membuat kita tersandung. Yang menentukan bukan besarnya pinjaman, tapi kedalaman perhitungan kita. 

Berutang itu tidak salah. Yang salah adalah berutang tanpa tahu cara bertahan jika rencana gagal. Bukan cuma niat membayar yang penting, tapi kemampuan dan strategi untuk benar-benar bisa membayar dalam situasi terbaik maupun terburuk. 

Kalau masih ragu lebih baik tahan. Tahan sekarang lebih baik daripada terjerat panjang kemudian.

Penulis : Slamet Sucahyo
Editor : Moh. Rizqo

Tags: keuangan
Sebelumnya

Ilusi Pertumbuhan: Membongkar dan Membangun Ulang (Bag.3)

Selanjutnya

Return vs Risiko: Menakar Investasi Usaha Tanpa Terjebak FOMO 

Piawai Bisnis

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Terkait Pos

Kenapa Paragon Begitu Kuat dalam People Development.

paragon
oleh Piawai Bisnis
27/11/2025
0

Di balik produk-produk yang akrab di meja rias jutaan perempuan Indonesia seperti Wardah, Emina, dan Make Over ada satu kekuatan yang jarang dibicarakan...

SelengkapnyaDetails

Ketika Pengusaha Lupa Menekan Tombol On/Off.

tombol on off
oleh Piawai Bisnis
26/11/2025
0

Pada fase awal, pengusaha sering menjadi segalanya sekaligus: pendiri, penggerak lapangan, pemasar, sekaligus direktur. Semua berjalan karena fokusnya satu dan...

SelengkapnyaDetails

Bisnis Hanya Tumbuh Sejauh Pemiliknya Mau Bertumbuh

pemiliknya bertumbuh
oleh Piawai Bisnis
05/11/2025
0

Ada satu kalimat yang mungkin terdengar sederhana, tapi menampar banyak pelaku usaha bisnis hanya tumbuh sejauh pemiliknya mau bertumbuh. Kalimat ini mudah...

SelengkapnyaDetails

Dilusi Saham. Ketika Kepemilikan Founder Menyusut Demi Pertumbuhan

dilusi saham
oleh Piawai Bisnis
30/10/2025
0

Dalam dunia bisnis, terutama di tahap-tahap awal pertumbuhan, ada satu momen yang sering membuat para founder terkejut, saat menyadari bahwa...

SelengkapnyaDetails

Bisnis Itu Maraton, Bukan Sprint

bisnis maraton
oleh Piawai Bisnis
27/10/2025
0

“Dalam bisnis, bukan yang paling cepat yang bertahan, tapi yang paling mampu menjaga keseimbangan antara ambisi dan ketepatan langkah.” -...

SelengkapnyaDetails

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Kategori

  • Analisis (9)
  • Insight (71)
  • Kisah Kadir (23)
  • Tips Praktis (8)

Arsip

  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store

© 2025 Piawai Bisnis - Platform Belajar Manajemen Bisnis.

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?