• Masuk
Piawai Bisnis
Advertisement
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Piawai Bisnis
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
Beranda Insight

Toxic Positivity dalam Tim: Bahaya Karakter “Haus Pujian” dan “Cepat Puas”

Piawai Bisnis oleh Piawai Bisnis
17/04/2026
pada Insight
A A
0
Toxic Positivity dalam Tim: Bahaya Karakter “Haus Pujian” dan “Cepat Puas”
0
Dibagikan
25
Dilihat

Dalam proses membangun tim, tidak semua masalah muncul dari kurangnya skill.

Sebagian justru datang dari hal yang lebih halus cara seseorang memandang dirinya sendiri, dan bagaimana ia merespons proses.

Ada tipe yang terlihat menjanjikan di awal. Cepat beradaptasi, komunikatif, dan tampak percaya diri. Namun seiring waktu, muncul pola yang perlahan mengganggu ritme kerja.

Ia membutuhkan pengakuan terus-menerus. Dan di saat yang sama, terlalu cepat merasa cukup.

 

Haus Pujian yang Menguras Energi Tim

Apresiasi memang penting.

Setiap orang butuh dihargai atas apa yang dikerjakannya. Namun ada perbedaan antara menghargai hasil kerja dan ketergantungan pada pujian.

Tipe ini bekerja dengan baik ketika mendapat pengakuan. Tapi ketika tidak, motivasinya turun drastis. Fokusnya bukan lagi pada kualitas hasil, tetapi pada bagaimana ia dilihat.

Dalam jangka pendek, ini mungkin tidak terasa.

Namun dalam tim, pola seperti ini pelan-pelan menggeser energi. Leader dan rekan kerja harus terus “mengisi” semangatnya, bukan karena pekerjaan, tetapi karena kebutuhan emosional yang tidak pernah selesai.

Tim yang sehat seharusnya bergerak karena tujuan bersama, bukan karena kebutuhan individu untuk terus diakui.

 

Cepat Puas, Berhenti Bertumbuh

Di sisi lain, ada kecenderungan yang tidak kalah berisiko yakni cepat puas.

Baru mencapai satu target kecil, sudah merasa cukup. Baru menyelesaikan satu tugas, sudah merasa performanya maksimal.

Tidak ada dorongan untuk mengevaluasi, memperbaiki, atau menaikkan standar.

Masalahnya bukan pada hasilnya.

Masalahnya ada pada berhentinya proses.

Dalam bisnis yang terus bergerak, tim yang cepat puas akan tertinggal. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak merasa perlu untuk berkembang lebih jauh.

 

Kombinasi yang Menghambat Performa

Ketika dua hal ini bertemu haus pujian dan cepat puas dampaknya menjadi lebih besar.

Di satu sisi, ada kebutuhan untuk terus diakui. Di sisi lain, tidak ada dorongan untuk benar-benar meningkatkan kualitas.

Akibatnya, standar kerja menjadi sulit naik.

Energi tim terkuras untuk menjaga perasaan, sementara performa tidak bergerak sejauh yang dibutuhkan.

Dan dalam jangka panjang, ini bukan hanya memperlambat pertumbuhan tim.

Ini bisa menahan laju bisnis secara keseluruhan.

 

Bukan Soal Baik atau Buruk, Tapi Kesiapan

Penting untuk dipahami, ini bukan tentang memberi label baik atau buruk pada seseorang.

Namun dalam konteks membangun bisnis, ada karakter tertentu yang belum siap untuk berada di lingkungan yang menuntut pertumbuhan.

Bisnis membutuhkan orang-orang yang tetap bergerak meski tidak selalu mendapat pujian. Yang tetap merasa belum cukup meski sudah mencapai hasil.

Bukan karena tidak bersyukur, tetapi karena memahami bahwa proses belum selesai.

 

Rekrut dengan Lebih Dalam, Bukan Lebih Cepat

Kesalahan yang sering terjadi dalam rekrutmen adalah terlalu fokus pada kemampuan teknis dan kesan awal.

Padahal karakter seperti ini sering baru terlihat setelah masuk ke dalam sistem kerja.

Karena itu, penting untuk melihat lebih dalam bagaimana seseorang merespons feedback, bagaimana ia melihat pencapaian, dan apakah ia memiliki dorongan untuk terus memperbaiki diri tanpa harus selalu didorong dari luar.

Tim yang kuat tidak dibangun dari orang-orang yang selalu ingin terlihat baik.

Tetapi dari mereka yang mau bertumbuh, bahkan ketika tidak ada yang melihat.

. . .

Pada akhirnya, membangun tim bukan hanya tentang mengisi posisi.

Tetapi tentang menjaga standar.

Karena satu orang yang tidak tepat, bukan hanya berdampak pada dirinya sendiri.

Ia bisa mengubah ritme, memengaruhi budaya, dan dalam diam… menahan laju seluruh tim.

Dan di titik itu, keputusan rekrutmen bukan lagi sekadar administratif.

Ia menjadi keputusan strategis.

 

-SCU & MRP-

Tags: #operasional
Sebelumnya

Masalah Bisnis Bukan di Pasar, Tapi di Kepala Pemilik

Selanjutnya

Terjebak dalam “Drama 10%”: Sibuk Membahas Masalah, Kehilangan 90% Peluang

Piawai Bisnis

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Terkait Pos

Terlihat Sibuk Tapi Tidak Bergerak: Waspadai Stagnasi yang Dinamis (Dynamic Stagnation)

Terlihat Sibuk Tapi Tidak Bergerak: Waspadai Stagnasi yang Dinamis (Dynamic Stagnation)
oleh Piawai Bisnis
26/05/2026
0

Ada fase dalam bisnis di mana semuanya terlihat aktif. Agenda penuh. Meeting berjalan. Ide terus bermunculan. Aktivitas tidak pernah berhenti....

SelengkapnyaDetails

Bertahan atau Pivot: Keputusan Paling Mahal dalam Bisnis

Bertahan atau Pivot: Keputusan Paling Mahal dalam Bisnis
oleh Piawai Bisnis
15/05/2026
0

Ada keputusan dalam bisnis yang terlihat seperti keberanian padahal sebenarnya pelarian. Dan ada keputusan yang terlihat seperti keras kepala padahal...

SelengkapnyaDetails

Cashflow Ketat, Pasar Berubah, Pesaing Mengancam , Dan Anda Harus Tetap Berdiri

Cashflow Ketat, Pasar Berubah, Pesaing Mengancam , Dan Anda Harus Tetap Berdiri
oleh Piawai Bisnis
12/05/2026
0

Bukan fase pertumbuhan. Bukan fase ekspansi. Tapi fase di mana semua yang sudah direncanakan dengan matang mulai tidak berjalan seperti...

SelengkapnyaDetails

Resep Itu Bukan Milik Semua Orang

Resep Itu Bukan Milik Semua Orang
oleh Piawai Bisnis
10/05/2026
0

Ibu Sari menggigit keripik itu pelan-pelan. Matanya sedikit membelalak. Renyah. Gurih. Ada sesuatu di lidahnya yang tidak bisa ia deskripsikan...

SelengkapnyaDetails

Rapi di Laporan, Hancur di Lapangan

Rapi di Laporan, Hancur di Lapangan
oleh Piawai Bisnis
09/05/2026
0

Dilakukan oleh orang pintar. Orang berpengalaman. Orang yang sangat tahu apa yang mereka lakukan. Dan alasannya sederhana: menyampaikan kabar buruk...

SelengkapnyaDetails

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Piawai Bisnis

Platform Belajar Pengembangan Bisnis. Kami bukan sekedar berbagi ilmu, kami ingin menumbuhkan cara berpikir baru. Selamat datang di ruang belajar yang tidak menggurui.

Kategori

  • Analisis (9)
  • Insight (92)
  • Kisah Kadir (24)
  • Tips Praktis (11)

Arsip

  • Mei 2026
  • April 2026
  • Februari 2026
  • Januari 2026
  • Desember 2025
  • November 2025
  • Oktober 2025
  • September 2025
  • Agustus 2025
  • Juli 2025
  • Juni 2025
  • Mei 2025
  • April 2025
  • Maret 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
Tidak ada hasil
Tampilkan seluruh hasil
  • Home
  • Insight
  • Tips Praktis
  • Kisah Kadir
  • Analisis
  • Store

© 2025 Piawai Bisnis - Platform Belajar Manajemen Bisnis.

Not enough quota to unlock this post
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?