Dalam proses membangun tim, tidak semua masalah muncul dari kurangnya skill.
Sebagian justru datang dari hal yang lebih halus cara seseorang memandang dirinya sendiri, dan bagaimana ia merespons proses.
Ada tipe yang terlihat menjanjikan di awal. Cepat beradaptasi, komunikatif, dan tampak percaya diri. Namun seiring waktu, muncul pola yang perlahan mengganggu ritme kerja.
Ia membutuhkan pengakuan terus-menerus. Dan di saat yang sama, terlalu cepat merasa cukup.
Haus Pujian yang Menguras Energi Tim
Apresiasi memang penting.
Setiap orang butuh dihargai atas apa yang dikerjakannya. Namun ada perbedaan antara menghargai hasil kerja dan ketergantungan pada pujian.
Tipe ini bekerja dengan baik ketika mendapat pengakuan. Tapi ketika tidak, motivasinya turun drastis. Fokusnya bukan lagi pada kualitas hasil, tetapi pada bagaimana ia dilihat.
Dalam jangka pendek, ini mungkin tidak terasa.
Namun dalam tim, pola seperti ini pelan-pelan menggeser energi. Leader dan rekan kerja harus terus “mengisi” semangatnya, bukan karena pekerjaan, tetapi karena kebutuhan emosional yang tidak pernah selesai.
Tim yang sehat seharusnya bergerak karena tujuan bersama, bukan karena kebutuhan individu untuk terus diakui.
Cepat Puas, Berhenti Bertumbuh
Di sisi lain, ada kecenderungan yang tidak kalah berisiko yakni cepat puas.
Baru mencapai satu target kecil, sudah merasa cukup. Baru menyelesaikan satu tugas, sudah merasa performanya maksimal.
Tidak ada dorongan untuk mengevaluasi, memperbaiki, atau menaikkan standar.
Masalahnya bukan pada hasilnya.
Masalahnya ada pada berhentinya proses.
Dalam bisnis yang terus bergerak, tim yang cepat puas akan tertinggal. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak merasa perlu untuk berkembang lebih jauh.
Kombinasi yang Menghambat Performa
Ketika dua hal ini bertemu haus pujian dan cepat puas dampaknya menjadi lebih besar.
Di satu sisi, ada kebutuhan untuk terus diakui. Di sisi lain, tidak ada dorongan untuk benar-benar meningkatkan kualitas.
Akibatnya, standar kerja menjadi sulit naik.
Energi tim terkuras untuk menjaga perasaan, sementara performa tidak bergerak sejauh yang dibutuhkan.
Dan dalam jangka panjang, ini bukan hanya memperlambat pertumbuhan tim.
Ini bisa menahan laju bisnis secara keseluruhan.
Bukan Soal Baik atau Buruk, Tapi Kesiapan
Penting untuk dipahami, ini bukan tentang memberi label baik atau buruk pada seseorang.
Namun dalam konteks membangun bisnis, ada karakter tertentu yang belum siap untuk berada di lingkungan yang menuntut pertumbuhan.
Bisnis membutuhkan orang-orang yang tetap bergerak meski tidak selalu mendapat pujian. Yang tetap merasa belum cukup meski sudah mencapai hasil.
Bukan karena tidak bersyukur, tetapi karena memahami bahwa proses belum selesai.
Rekrut dengan Lebih Dalam, Bukan Lebih Cepat
Kesalahan yang sering terjadi dalam rekrutmen adalah terlalu fokus pada kemampuan teknis dan kesan awal.
Padahal karakter seperti ini sering baru terlihat setelah masuk ke dalam sistem kerja.
Karena itu, penting untuk melihat lebih dalam bagaimana seseorang merespons feedback, bagaimana ia melihat pencapaian, dan apakah ia memiliki dorongan untuk terus memperbaiki diri tanpa harus selalu didorong dari luar.
Tim yang kuat tidak dibangun dari orang-orang yang selalu ingin terlihat baik.
Tetapi dari mereka yang mau bertumbuh, bahkan ketika tidak ada yang melihat.
. . .
Pada akhirnya, membangun tim bukan hanya tentang mengisi posisi.
Tetapi tentang menjaga standar.
Karena satu orang yang tidak tepat, bukan hanya berdampak pada dirinya sendiri.
Ia bisa mengubah ritme, memengaruhi budaya, dan dalam diam… menahan laju seluruh tim.
Dan di titik itu, keputusan rekrutmen bukan lagi sekadar administratif.
Ia menjadi keputusan strategis.
-SCU & MRP-





