Bulan lalu adalah bulan terbaik dalam sejarah bisnis Kadir. kas kosong
Omzet tertinggi sejak pertama kali ia membuka usaha. Order korporat masuk beruntun. Semua cabang ramai. Di rapat penutupan bulan, Kadir mentraktir seluruh tim, dan malam itu juga ia memutuskan sesuatu yang sudah lama ia impikan: renovasi cabang kedua dimulai bulan depan. Uang muka langsung dibayarkan ke kontraktor.
Ia pulang dengan perasaan yang hanya dipahami orang yang pernah merintis dari nol. Rasanya, semua kerja keras mulai terbayar.
Dua minggu kemudian, supplier utamanya menelepon.
Tagihan jatuh tempo. Nilainya tidak seberapa dibanding omzet bulan lalu. Tapi ketika Kadir membuka rekening bisnisnya, ia terdiam cukup lama.
Saldonya tidak cukup.
Kadir membuka laporan penjualan. Untung. Jelas-jelas untung, bahkan paling tebal sepanjang sejarah bisnisnya. Tapi rekening berkata lain. Dan pertanyaan itu menggantung sepanjang malam: bagaimana mungkin bisnis yang untung tidak bisa membayar tagihan?
Untung di Kertas, Kosong di Rekening
Seperti biasa kalau ada angka yang tidak masuk akal, Kadir membawa masalah itu ke meja Abdul. Mereka membedahnya pelan-pelan. Jawabannya ternyata tidak rumit. Hanya tidak pernah dilihat.
Pertama, order korporat yang membuat omzet melonjak itu belum dibayar. Terminnya 45 hari. Di laporan penjualan, order itu sudah tercatat sebagai pendapatan. Di rekening, ia masih berupa janji.
Kedua, demi mengejar order, Kadir menumpuk stok bahan baku jauh lebih banyak dari biasanya. Uang tunai berubah menjadi tumpukan barang di gudang.
Ketiga, uang muka renovasi sudah telanjur keluar. Diputuskan di malam euforia, tanpa pernah bertanya kapan uang dari omzet besar itu benar-benar masuk.
Untung yang dirayakan Kadir ada di laporan. Uangnya ada di piutang, di gudang, dan di kantong kontraktor.
Laba Itu Opini, Kas Itu Fakta
Malam itu Kadir belajar membedakan dua hal yang selama ini ia anggap sama.
Laporan laba rugi mencatat hak dan kewajiban. Ia sah, ia penting, tapi ia berisi banyak angka yang belum menjadi kenyataan. Rekening tidak kenal istilah itu. Rekening hanya mencatat uang yang benar-benar ada.
Dan bisnis tidak tutup karena rugi di laporan. Banyak bisnis yang untung di atas kertas tapi tutup juga, karena tidak sanggup membayar apa yang jatuh tempo hari ini. Gaji tidak bisa dibayar dengan piutang. Supplier tidak menerima pembayaran berupa stok di gudang.
Proyeksi Kas Ala Warung
Abdul tidak menyodorkan aplikasi atau template rumit. Ia menyodorkan satu lembar kertas.
Dua kolom. Delapan minggu ke depan. Kolom kiri: uang yang pasti masuk, lengkap dengan tanggal dan dari siapa. Kolom kanan: uang yang pasti keluar, lengkap dengan tanggal dan ke siapa. Bukan akuntansi. Hanya jujur pada kalender.
Dari satu lembar itu, Kadir membuat tiga aturan baru untuk dirinya sendiri.
- Keputusan pengeluaran besar tidak boleh diambil di malam euforia. Ia harus lolos lembar proyeksi kas dulu.
- Omzet dari piutang tidak dihitung sebagai uang, sampai uangnya benar-benar masuk rekening.
- Setiap Jumat sore, lima belas menit, melihat delapan minggu ke depan. Rutin, seperti mengecek stok.
Bulan Berikutnya
Omzet Kadir bulan berikutnya sedikit lebih rendah. Tidak ada perayaan, tidak ada traktiran besar.
Tapi untuk pertama kalinya, Kadir tahu persis tagihan mana yang jatuh tempo minggu depan, uang mana yang akan menutupnya, dan berapa lama bisnisnya bisa bernapas kalau order tiba-tiba sepi. Tidak ada telepon supplier yang membuat jantungnya jatuh.
Ia masih merayakan omzet. Tapi sekarang ia tahu, yang membuat bisnis bertahan bukan angka yang dirayakan di rapat, melainkan angka yang tersedia di rekening pada tanggal jatuh tempo.
Laba itu opini, kas itu fakta. Dan tagihan hanya bisa dibayar dengan fakta.
kas kosong. kas kosong
-SCU & MRP-
Baca juga — kenapa bisnis terasa mentok:





